Selasa, November 11, 2014

Jawabanku ke 12 terhadap komentator di fbku .




Kata pengantar:
Stempel pendusta bagi orang yang menyampaikan ajaran lurus yang beda dengan ajaran golongan yang bengkong sudah biasa sekali di sematkan kepadanya. Dan tetel pujaan dan acc bagi mereka yang mendukung ajaran golongan sudah biasa di sini atau di luar negri , sekarang atau masa lalu.
Ketika saya mengupas tentang kesyirikan ahli bid`ah dalam doa dan shalawatnya, dan ketauhidan para  sahabat , saya mendapat berbagai julukan yang hina dina  pendusta, mencari uang belaka dengan menerbitkan buku yang sensasional. Bahkan orang – orang Ampel  punya usul dimassa saja. Bahkan sesepoh kampung menyatakan : Pengikutnya hanya  satpam perumahan, tiada santri dari jebolan pondok pesantren dll. Tapi saya harus maju pantang menyerah, tidak boleh mundur dengan membiarkan kebid`ahan meraja lela. Saya ingat firmanNya:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ(27)
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".  Hud 27
Inilah jawabanku ke 12 terhadap para komentator di fbku.
 
ابو خنساء tanya Ustadz Mahrus (pertanyaan sy yg lalu2 blm ditanya Ustadz) mengapa Imam Ahmad bin Hanbal menerima hadits innamal a'malu bin niyat bahkan mjdkannya ushul islam pdh ustadz nukil diatas beliau termasuk yg menolak hadits gharib? apakah menurut Imam Ahmad bin Hanbal hadits innamal a'malu bin niyat itu bukan hadits gharib tadz?
Saya katakan:
Tolong dikutipkan pernyataan Imam Ahmad sendiri dengan bahasa arab dan terjemahannya serta refrensinya agar lebih akurat, lalu pembaca  bisa menerima dengan mantap karenanya.
Setelah itu, saya akan bisa memberi komentar.


ابو خنساء          menulis :
 terkait soal ijma tadz, kira2 ada gak Ulama yg memahami hadits2 terkait makan ayam atau mikhlab itu sbgmn Ustadz? shg bisa dinyatakan ijma itu batal?
Saya ( Mahrus  ali ) menjawab
 Saya akan bahas sedikit tentang Ijma`. Setahu saya ulama yang menyatakan kehalalan ayam  dengan Ijma` itu  bisa  di hitung  dengan jari, bukan mayoritas ulama mengatakan begitu.Kebanyakan mereka diam  dan tidak mengatakan spt itu.  Ulama  itu jumlahnya banyak, bukan ribuan. Mungkin jutaan. Apakah mereka yang diam itu sudah ditanyai tentang hukum makan daging Ayam itu lalu mereka menjawab ya, halal.   Sehingga dengan  demikian boleh di katakan Ijma` . Jadi pernyataan Ijma` ulama  itu tidak mudah, tapi sulit sekali untuk dibuktikan kebenaran Ijma` itu. Mudah dikatakan , sulit dibuktikan kebenarannya.
Ada sebagian ulama menyatakan:
وكم من إجماعٍ نقلوه وهو أبطل من الباطل. ولنا أن نذكر مقولة الإمام أحمد: «من ادعى الإجماع فهو كاذب
Banyak  ijma` yang mereka kutip  ternyata paling keliru. Kita ingat perkataan Imam Ahmad : Barang siapa yang  menyatakan Ijma` adalah  pendusta.
Ibnu Taimiyah berkata:
ولكن كثير من المسائل يظن بعض الناس فيها إجماعا ولا يكون الأمر كذلك بل يكون القول الآخر أرجح في الكتاب والسنة.
Tapi banyak sekali masalah – masalah yang dikira sebagian manusia mendapat Ijma`. Tapi hakikatnya  tidak begitu. Bahkan perkataan lainya  lebih  rajih ( dominan ) dalam  kitab al Quran dan sunnah ( maksudnya pendapat yang lain lebih cocok  menurut  al quran dan sunnah ) . Lihat  di Majmu`  fatawa  juz 20
Ibnu Hazem berkata:
المحلى [مشكول و بالحواشي] - (ج 7 / ص 345)
وَرَحِمَ اللَّهُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ فَلَقَدْ صَدَقَ إذْ يَقُولُ: مَنْ يَدَّعِي الإِجْمَاعَ فَقَدْ كَذَبَ، مَا يُدْرِيهِ لَعَلَّ النَّاسَ اخْتَلَفُوا  لَكِنْ لِيَقُلْ: لا أَعْلَمُ خِلافًا، هَذِهِ أَخْبَارُ الْمَرِيسِيِّ، وَالأَصَمِّ.
Semoga Allah memberi rahmat  kepada Imam  Ahmad bin Hambal . Sungguh benar beliau ketika  berkata: Barang  siapa yang mengaku Ijma` maka  sungguh dia berdusta.  Apakah dia tahu  barang kali manusia beda pendapat. Tapi katakan saja: Aku tidak tahu hilap dalam masalah ini. ………. Ini  adalah  berita – berita al marisi dan al asham (  ya`ni kabar Burung ).
وقال ابن القيّم :
« وكذلك الشافعي أيضا نصّ في رسالته الجديدة على أنّ ما لا يعلم فيه خلاف لا يقال له إجماع ، ولفظه لا يعلم فيه خلاف ، فليس إجماعا

Ibn Qayyim berkata: Begitu juga Imam Syafii menulis nas dalam  risalahnya yang baru bahwa  masalah yang  tidak diketahui terdapat hilap padanya  tidak boleh dikatakan Ijma` . Kalimatnya :
لا يعلم فيه خلاف ، فليس إجماعا
Tiada  hilap dalam suatu masalah bukan menunjukkan  Ijma`.

 Anda menyatakan:
terkait soal ijma tadz, kira2 ada gak Ulama yg memahami hadits2 terkait makan ayam atau mikhlab itu sbgmn Ustadz? shg bisa dinyatakan ijma itu batal?
  Mengatakan  ijma sendiri adalah kedustaan  menurut Imam ahmad, tapi katakan saja saya  belum tahu ada orang yang menyelisihi.
Saya belum tahu ulama yang memahami hadis terkait Ayam itu itu seperti saya,
Dan saya  juga  tidak tahu para  sahabat yang berani memakan Ayam . Mereka selalu menghindari makan Ayam. Dan Ayam di anggap seperti Kucing. Ia  dibiarkan hidup dan tidak dipotong apalagi untuk kosumsi makanan.
Ijma`  untuk menyelisihi  para sahabat sangat tidak sah, lalu bagaimana  bisa di batalkan karena tidak ada  yang menyelisihinya. Para sahabat  saja tidak mengatakan  begitu. Ibn Mulaqqin yang menyatakan halal Ayam dengan Ijma`  itu sudah jauh masanya dengan para  sahabat. Beliau dilahirkan pada tahun 723 هـ،.  Dan  coba tunjukkan sampai berapa orang ulama yang menyatakan penghalalan daging Ayam   secara Ijma` itu. Setahu saya sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.
Ijma` untuk menyelisihi  sahabat tidak boleh, bahkan seharusnya ijma  untuk menyamai  prilaku para sahabat  karena ada ayat:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar  Tobat 100
Begitu juga hadis:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

Artinya,“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya.” (HR. Bukhari (2652), Muslim (2533))

Seandanya  anda bertanya kepada para pendeta kristen, tentang Yesus tuhan, maka  mereka akan menjawab: Ya, dia adalah anak  Tuhan, bahkan dikatakan Tuhan.
Seandainya  anda bertanya kepada  ulama Syi`ah tentang melaknat kepada Abu bakar dan Umar , mereka akan berkata wajib .
وقال الإمام ابن القيم –رحمه الله- في "إعلام الموقعين" (1/29-30) متحدثاً عن أصول الإمام أحمد –رحمه الله-:
" وكان فتاويه مبنية على خمسة أصول:
أحدها: النصوص، فإذا وجد النص أفتى بموجبه، ولم يلتفت إلى ما خالفه ولا من خالفه كائنا من كان،

Imam Ibn Qayyim al Jauziyah rahimahullah  dalam kitab I`lamul mauqiain 29-30/ 1 berbicara  tentang dasar – dasar Imam Ahmad  rahimahullah
Fatwa – fatwa beliau  berlandaskan  lima  dasar :
1. Nas. Bila   beliau menjumpai  nas, maka langsung berfatwa dengannya dan tidak perduli apa yang  hilap padanya atau orang yang berbeda dengannya siapapun juga.

 Ternyata  pertanyaan Ustadz Abu Khansa` itu sudah di jawab di artikel yang lalu. Pada hal , jawaban saya sudah dapat  empat halaman.
Tapi tidak mengapa , jawabannya  beda dengan yang lain, pada perinsipnya sama. Masih  ada  manfaatnya dan ilmu baru bukan ilmu yang lama dulu.
Ada hadis sbb:

مصنف ابن أبي شيبة – (ج 5 / ص 576)
حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع عن سفيان عن عمرو بن ميمون عن نافع عن ابن عمر أنه كان يحبس الدجاجة الجلالة ثلاثا

bercerita kepada kami Abu bakar, lalu berkata: bercerita kepada kami Waki` dari Sofyan dari Amar bin Maimun dari Nafi` dari Ibnu Umar , sesungguhnya beliau menahan ayam yang makan kotoran tiga hari ( untuk bisa di makan).

Atsar   tsb sekalipun dikatakan sahih dari segi sanadnya oleh Ibnu Hajar tapi ada segi kelemahannya, yaitu   tafarrud fis sanad.Seluruh periwayatan tentang Ibnu Umar mengurung  ayam  terlebih dulu  ketika akan menyembelih itu   hanya  dari seorang tabiin  yaitu Nafi`, tiada perawi lain. Aneh tabiin sekian banyaknya  tidak tahu  kisah  itu kecuali Nafi`. Dan istri Ibnu Umar atau anaknya  dan sahabat – sahabat yang lain tidak  tahu kisah itu. Ini suatu keganjilan yang membikin lemahnya kisah itu, bukan wajar yang menguatkannya.
Dan masalah tafarrud ini telah dijelaskan di jawaban  yang lalu. Ia adalah lemah menurut ulama hadis yang dulu.

DR Abu Lubabah At thahir Shalih Husain kepala bagian dirosah Islamiyah  di Emirat menyatakan :
وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ
 Mengghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya  tertolak , dikatakan mungkar , syadz memang ada dlm perkataan kebanyakan ahli hadis . Ulumul hadis 12/1

Ada juga yang membikin lemah yaitu kontradiksi antara redaksi hadis  sbb:
.
مصنف عبد الرزاق - (ج 4 / ص 522)
-        عبد الرزاق عن عبد الله عن نافع عن ابن عمر أنه كان يحبس الدجاجة ثلاثة إذا أراد أن يأكل بيضها.
Abd Razzaq dari Abdullah  dari Nafi` dari Ibnu Umar bahwa beliau menahan ayam  tiga hari bila ingin makan telornya.
Disini ada tambahan  bila ingin makan telornya. Di hadis  di atas tambahan itu  tidak ada. Hadis yang re daksinya kacau belau seperti ini membikin orang sulit memilih, mana di antara keduanya yang keliru, dan mana  yang benar atau benar semua tidak mungkin. Hal  ini juga membikin hadis itu lemah.
Ada riwayat yang sama tapi beda redaksinya sbb:
فتاوى الأزهر - (ج 8 / ص 414)
عن نافع عن ابن عمر رضى الله عنهما أن النبى صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد أن يأكل دجاجة أمر بها فربطت أياما ثم يأكلها بعد ذلك
Dari Nafi` dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Nabi SAW bila hendak makan Ayam , maka beliau memerintah agar Ayam itu di ikat beberapa hari , lalu di makan setelahnya.  Fatawa  al azhar . 414/8
Redaksi yang kaacau antara  satu  riwayat dan lainnya ini membikin atsar Ibnu Umar makan Ayam tertolak, tidak boleh diterima, lepaskan saja, jangan di buat pegangan dalam beragama.
Dalam ilmu mustholahul hadis di katakan :
وَذُو اخْتِلاَفِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنٍ    مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ اْلفَنِ
      Kekacauan sanad atau redaksi termasuk mudhtharib menurut ahli mustholah hadis.

بل إن الإمام أحمد بن حنبل جعل مصطلح الغريب دليلا على الوهم، فقد نقل عنه محمد بن سهل بن عسكر أنه قال: « إذا سمعت أصحاب الحديث يقولون: «هذا الحديث غريب» أو« فائدة» فاعلم أنه خطأ، أو دخل حديث في حديث، أو خطأ من المحدث، أو ليس له إسناد، وإن كان قد رواه شعبة وسفيان»3.
Bahkan imam Ahmad bin Hambal  menjadikan istilah gharib sebagai tanda kekeliruan.  Sungguh  Muhammad bin Sahal bin Askar mengutip dari Imam Ahmad  bahwa beliau menyatakan: Bila  kamu  mendengar ahli hadis  berkata: Ini hadis gharib , atau faidah , ketahuilah ia adalah kekeliruan, atau hadis  masuk  dalam  hadis lain, atau kekeliruan dari  ahli hadis  atau orang yang menceritakannya  atau ia tidak punya sanad sekalipun diriwayatkan oleh Sufyan atau Syu`bah. 3
Abu bakar al bardiji  berkata:
المنكرهو الذي يحدث به الرجل عن الصحابة ، أو عن التابعين ، عن الصحابة ، لايعرف ذلك الحديث ـ متن الحديث ـ إلا من طريق الذي رواه ، فيكون منكرا
Hadis  munkar adalah hadis yang  di sampaikan oleh  seorang lelaki  dari  sahabat atau  dari tabi`in dari sahabat. Hadis  itu atau redaksinya   tidak dikenal kecuali   dari orang tsb , maka  hadis itu adalah munkar.
(3) 

 شرح علل الترمذي (2/ 653ـ654) وانظر التعديل والتجريح للباجي (1/302)


Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan