Rabu, Maret 06, 2013

Bagaimana Media Massa Koran Saudi Okaz Memotret Pengiriman TKW dari Indonesia (Bagian 1): 1000 Makelar Mendominasi 3 Juta TKW Indonesia


PRAKATA:
Sekitar satu minggu yang lalu, pertengahan bulan November 2011 saya bertamu ke rumah salah seorang kawan WNI mukimin di daerah Ummul Hammam, Riyadh, sekedar untuk bersilaturrahim dengan dirinya dan keluarganya yang baru saja menunaikan ibadah haji. Saya menyampaikan ucapan selamat telah menunaikan rukun haji yang ke-5, semoga mabrur dan mendapat limpahan berkah dari Allah SWT.
Obrolan berlangsung dengan santai sambil menonton TV siaran Indonesia yang ditangkap dari satelit, menikmati hidangan kopi dan camilan yang dibuat oleh istrinya. Di ruang tamu tersebut terdapat banyak tumpukan majalah dan koran baik berbahasa arab maupun Indonesia. Saat kami tengah ngobrol seru “ngalor-ngidul” tentang pemberitaan yang gencar di media massa cetak / koran setempat tentang akan dibukanya moratorium oleh Indonesia pada akhir Desember 2011 dan kemungkinan masuknya TKW ke Saudi paling cepat awal 2012 nanti, tiba – tiba teman saya bercerita bahwa dirinya teringat pernah membaca semacam liputan bersambung yang dilakukan oleh sebuah koran berbahasa arab bernama OKAZ tentang seluk beluk TKW di Indonesia dan bagaimana pandangan masyarakat Saudi terhadap mereka. Menarik!
Saya katakan bahwa sampai saat ini setahu saya Pemerintah Indonesia masih belum membuka keran ekspor / pengiriman TKW ke Arab Saudi. Saya sendiri penasaran tentang cerita kawan tersebut tentang bagaimana media massa Arab Saudi mem-frame atau melihat kondisi pengiriman TKW dari Indonesia. Dia menunjukkan semacam kliping tentang liputan berseri OKAZ tersebut yang sebenarnya bisa juga di akses di website resmi koran tersebut. Liputan koran OKAZ tersebut terbit di awal bulan Juli 2011, masih belum terlalu lama, bukan.
Karena saat itu tulisan masih dalam bentuk bahasa arab gundul, dan terus terang saya geragapan kalo harus menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, maka saya meminta tolong dirinya untuk menterjemahkannya. Dia menyanggupi untuk menyusunnya dan saya menyanggupi untuk memuatnya di blog Kompasiana saya. Sebagai bahan informasi (yang mungkin bisa dibenarkan maupun di sanggah oleh para Kompasianer yang bermukim di jazirah arab) OKAZ itu kalau menurut saya semacam JAWA POS kalau di Indonesia. Dia terbit dari Jeddah, memiliki terbitan berbahasa Inggris bernama Saudi Gazette dengan oplah yang cukup besar dan iklan yang menarik.
Saya hanya ingin men-share informasi yang ada di koran setempat itu, ingin memperlihatkan sisi lain pemberitaan tentang TKW dilihat dari kacamata liputan seorang wartawan dan media massa Saudi. Ingin memperlihatkan kepada warga Kompasianer tentang bagaimana Saudi melihat pengiriman TKW dari Indonesia (dan kasus – kasus yang marak sebagai ekses-nya) sebagai bahan perbandingan dengan pemberitaan dari media massa Indonesia tentang kondisi TKW di Arab Saudi. Tidak ada maksud saya untuk menyebarluaskan kebencian, toh tulisan ini pernah dimuat di harian lokal setempat yang dibaca ratusan ribu warga Saudi. Meskipun kebebasan pers-nya berbeda kadar keterbukaanya dengan di Indonesia, artinya tulisan tersebut sudah “lulus sensor” pemerintah Saudi.
Hal ini justru saya lakukan untuk meng-cover both side story baik dari Indonesia maupun Arab Saudi. Kalau memang apa yang ditulis oleh koran Saudi ini ada benarnya, dan kita anggap sebagai kritik yang membangun, ya mari kita perbaiki bersama – sama mekanisme pengiriman TKW ke Saudi.
Kalau yang ditulis ini ada banyak kesalahannya karena perbedaan persepsi beragama, berbudaya dan sudut pandang masyarakat suatu bangsa melihat suatu permasalahan (seperti misalnya masalah sihir) ya mari kita berikan penyadaran guna mendapatkan pengertian bersama. Mari kita dudukkan permasalahan pada tempatnya.
Jika memang banyak yang tidak benarnya, dan jurang perbedaan itu sudah sedemikian tajamnya menganga, dan mungkin sudah tidak mampu untuk diperbaiki lagi, mungkin sudah saatnya kita mengambil opsi / sikap untuk menghentikan sama sekali pengiriman TKW itu untuk selamanya, biarkan obyektifitas kita dan para Kompasianer lah yang menilainya. Toh kita sudah sama – sama dewasa untuk dapat mencerna setiap informasi yang ada.
Kalaupun pernah ada Kompasianer yang sudah pernah menerjemahkannya dan mem-postingnya di Kompasiana bulan Juli 2011 yang lalu, saya meminta maaf. Tidak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk meng-copy paste / atau mem-plagiat / me-repost tulisan yang pernah ada sebelumnya. Terjemahan ini akan saya posting secara bersambung sebanyak 4 kali sesuai dengan postingan aslinya. Selamat menikmati !!!
sumber:

 

Komentarku ( Mahrus ali): 
Seorang perempuan itu tugasnya di rumah saja, tidak usah berkerja menjadi TKW atau menjadi lainnya di luar negri atau di dalam negri. Untuk luar negri yang menjadi TKW harus dihentikan, jangan di lanjutkan. Untuk wanita yang kerjanya didalam negri di Pabrik yang sistem kufur ini, juga tidak layak lagi bagi wanita muslim kerja disitu. Ikutilah ayat ini saja:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(33)
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.  Al ahzab

 

Blog ke tiga
Peringatan: Mesin pencari diblog tidak berfungsi, pergilah ke google lalu tulislah:  mantan kiyai nu    lalu teks yang kamu cari

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan