Rabu, Juni 20, 2012

Saya tidak makan daging burung sejak tahun 2000


Oleh : Restu Rina Tri Lestari  
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

Simpang Lima di Kediri, Jawa Timur kini semakin tersohor di mata wisatawan karena keberadaan seorang penyulap hama menjadi santapan lezat. Jika kebetulan datang ke Kediri, jangan lupa sempatkan mencicipi sate hama yang kini naik pamor menjadi kuliner andalan Kediri! Apa itu? Burung emprit!

Jangan heran dulu. Burung emprit meang bukan burung yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Burung Emprit juga tak dimasukkan sebagai kelompok burung kelangenan seperti burung perkutut maupun derkuku. Ia juga tak termasuk burung yang pandai berkicau, karena nyaris tak mempunyai ocehan yang mampu mengelus telinga manusia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa burung emprit merupakan salah satu hama yang sangat meresahkan para petani menjelang musim panen. Hama yng satu ini tidak mau kalah dengan para petani, mereka ikut memanen padi dengan cara menyerang padi yang sudah memasuki masa panen.

Hebatnya, di tangan Pak Darmianto, guru olahraga di SDN 1 Gurah, Kediri, burung emprit yang menjadi musuh petani, disulap memiliki nilai ekonomis, yakni menjadi makanan lezat dan lain daripada yang lain. Pak Darmianto menyulap burung emprit menjadi sate emprit yang menggedor citarasa. Tak pelak, sate emprit Pak Darmianto tak pernah kehilangan pemburu sensasi kuliner yang unik. Buktikan saja, saat sate digigit, cita rasa sedap langsung terasa. Ketika melewati kerongkongan rasanya sangat lembut. Apalagi sate emprit ini tak berbau amis. Berbeda dengan sate ayam yang ketika dibakar masih berwarna putih, untuk sate emprit warnanya menjadi kecokelatan. Tekstur dagingnya liat, tidak lengket, aroma rasanya kuat, tanpa lemak, dan rasanya sangatlah gurih.

Bagi penggemar santapan pedas, tak usah khawatir karena pak Darmianto sudah melakukan antisipasi dengan menyiapkan sambal ekstrapedas yang akan menjadikan lidah Anda terasa terbakar. Dijamin pasti ketagihan karena sate emprit ini tak kalah dengan menu restoran mewah yang menguras kocek Anda. Bandingkan saja dengan sepuluh tusuk sate emprit cukup dihargai Rp 12.000 saja. Dan bila kurang sreg dengan sate emprit, puaskan penasaran Anda dengan kresengan emprit atau emprit goring yang dibanderol Rp 10.000 per porsi. Ingat, warung sate emprit Pak Darmianto ini mulai membuka lapaknya di depan SDN 1 Gurah, Kediri pukul 16.00-21.00.

Sssttt….pengakuan dari penikmat sate emprit konon daging burung emprit dipercaya juga bisa menyembuhkan penyakit asma. Jadi,di samping sebagai lauk pauk, menu emprit juga sebagai obat. Percaya atau tidak, selamat mencoba.
Komentarku ( Mahrus ali ):

Saya  sudah lama tidak makan daging burung, insya Allah sejak kecil jarang. Dan resminya sejak tahun 2004 saya menolak burung untuk kosumsi makanan karena saya tidak menjumpai pernyataan Allah dalam al Quran atau hadis yang membolehkan burung untuk dimakan.
Kisah manna wassalwa yang di katakan salah salah satunya adalah burung emprit itu sekedar pendapat ulama bukan hadis yang sahih. Secara realita sepengetahuan saya, para nabi dan Rasul tidak pernah makan burung. Bahkan ada hadis sbb:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
Rasulullah SAW melarang  setiapbinatang buas bertaring dan setiap burung yang punya cakar [1]

Cakar disitu, sayang sekali di artikan oleh sebagian orang dengan kuku yang tajam yang bisa di buat untuk menerkam hewan lain. Ini adalah penyelewengan arti yang harus di stop, bukan malah di budayakan dan disebarkan .


[1] Muslim  1934
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan