Senin, Maret 26, 2012

Gagal Gandakan Uang, Mbah Wali Ditangkap Polisi

NGANJUK | SURYA Online - Wagyumi alias Mbah Wali (50) warga Dusun Jaruman Desa Godean Kecamatan Loceret ditangkap polisi, karena dilaporkan telah menipu Muroto (48) PNS warga kelurahan Ganung Kidul Kecamatan Nganjuk dengan menjanjikan menggandakan uang dari Rp 60 juta menjadi Rp 1 miliar.
Saat ini, tersangka terpaksa dirawat di RS Bhayangkara Nganjuk karena mengalami depresi usai ditangkap. Selama di tempat tidur, tersangka selalu berteriak sambil memaki semua orang disekitarnya.
Sebelumnya, korban mengenal Mbah Wali melalui telepon yang mengaku titisan wali yang diberi kekuatan menggandakan uang. Setelah diberi jampi-jampi, korban menyerahkan uang Rp 60 juta dengan janji dalam waktu sebulan uang tersebut akan beranak menjadi Rp 1 miliar.
Karena sudah sebulan, korban mendatangi rumah Mbah Wali. Ternyata, pelaku meminta waktu seminggu untuk menggandakan uangnya. Korban bahkan sempat membuat tanda terima dengan kuitansi bermaterai yang ditandatangani Mbah Wali. Namun selang seminggu, uang tetap belum diserahkan.
Kapolsek Loceret AKP Edi Santoso SH MH membenarkan adanya kasus penggandaan uang. “Pelaku mengalami depresi hingga belum bisa kami periksa,” kata Edi Santoso mendampingi Kapolres AKBP Anggoro Sukartono SIK, Senin (26/3/2012).
Komentarku ( Mahrus ali ):
Penggandaan uang itu dusta belaka bukan jujur atau benar. Dan berkali – kali bukan unik lagi, kasus ini terjadi. Sungguhpun demikian, masih ada korbannya. Seorang mukmin tidak diperkenankan menjalankan penipuan, tapi harus jujur, tidak boleh bohong. Allah berfirman:
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ  وَاللهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ(15)الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِاْلأَسْحَارِ
Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.(Yaitu) orang-orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang yang sabar, yang suka berkata benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. [1]
 Penipuan itu karakter non muslim bukan karakter muslim. Dan kita dilarang mendekati dukun sebagaimana hadis:
مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْماً  
Barang siapa yang datang kepada tukang ramal, lantas bertanya kepada sesuatu, lalu membenarkannya maka salatnya tidak diterima selama empat pulah hari.
(HR. Muslim) [2]
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barang siapa yang datang kepada tukang tebak atau tukang ramal, lantas membenarkan apa yang dikatakan nya. sungguh kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.[3]


[1] Ali Imran    15-17  lihatlah dalam buku kami  Foto surga dan karakter calon penghuninya yang akan di terbitkan oleh sarana grafika . Telp 031 . 5032503.
[2] Arraf seperti tukang tenung atau tebak. Diakatakan : Dia  pensihir . Imam  Al baghowi  berkata : “ Arraf adalah orang yang mengetahui   perkara dengan  sebab atau tanda – tandanya yang menunjukkan lokasinya seperti  lokasi orang yang dui curi , pencuri dan barang  yang hilang .

[3] HR Tirmidzi /Thoharah /135. Abu Dawud  /Toharah /3904. Ibnu Majah  / Thoharah /639. Darimi /Thoharah /1136.  lihat pula di lisanul arab 238/9 363/13. Tafsir qurthubi 3/7 Tafsir Ibnu  Katsir /145/1. Kasyfud dhunun 1913/2. Ahkamul Quran  /61/1. Tuhfatul asyraf  123-124 / 10 . Al muntaqa  min fatawas syekh Al Fauzan  nomer fatwa  104/  jilid 2

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan