Senin, Juni 29, 2015

Jawabanku untuk Gus Dodi ElHasyimi ke 7











Dodi Elhasyimi menulis lagi:

 juga Menukil pendapat Al Mundziri yg MENSAHIHKAN RIWAYAT IBNU MAJAH
Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda salah paham, tidak benar dalam memahami kalimat sbb:

والحديث عزاه المنذري إلى ابن ماجه من طريق زياد بن أبي سودة عن أخيه عثمان عن ميمونة ، وهو في الصحيح،
Hadis tsb ( hadis pengiriman minyak untuk lampu baitul maqdis ) dinisbatkan oleh al Mundziri kepada Ibnu Majah  dari jalur Ziyad bin Abi Saudah  dari saudaranya  Usman  dari Maimunah . Dan hadis itu di sahih Bukhari dan Muslim.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila hadis tsb di anggap di sahih Bukhari dan Muslim, maka sy tidak menjumpainya setelah lama mencarinya. Dan sy anggap keliru sekali, bukan benar. 
Jadi al mundziri  tidak mensahihkan hadis tsb. Hadis  itu di sahih Bukhari dan Muslim itu perkataan Syaikh Abd Muhsin bukan al Mundziri.

Anda menyatakan:
 juga menukil lafadz Al Buushiriy di Mishhbahuz Zujajah yg mengatakan Isnad dari jalur Ibnu Majah Shahih dan Rijalnya Tsiqot
Komentarku ( Mahrus ali ):
Sanad sahih, kadang hadis dikatakan lemah karena syadz, redaksinya  kacau dari satu riwayat ke riwayat lain, kadang redaksi hadis  gharib tidak  cocok dengan kebanyakan riwayat sahih yg lain, nentang al quran atau hadis mutawatir.
Dan hadis  riwayat Ibn Majah sudah dijelaskan kelemahannya  di atas.

شرح سنن أبي داود - عبدالمحسن العباد (ص: 2)
والحديث عزاه المنذري إلى ابن ماجه من طريق زياد بن أبي سودة عن أخيه عثمان عن ميمونة ، وهو في الصحيح، كما قاله المزي في تهذيب الكمال، وتبعه تلميذه العلائي في جامع التحصيل و ابن حجر في تهذيبه، ولفظ البوصيري في مصباح الزجاجة. إسناد طريق ابن ماجه صحيح رجاله ثقات، وهو أصح من طريق أبي داود ، وعلى هذا يكون فيه اتصال، ولكن إسناد ابن ماجه فيه عثمان .
حصى المسجد



Dodi ElHasyimi Di halaman sebelumnya Abdul Muhsin ' Abbad juga mengatakan :     


قوله باب في السرج في المسجد يعني إضاءتها إنارتها وهذا أمر مطلوب في المساجد والقيام بذلك من الأمور المطلوبة في المساجد لأن كل ما فيه مصلحة ومنفعة في المسجد للناس أمر مطلوب ومن قبل كانت تتخذ السرج ويستعملون الزيت لإيقادها



Ucapan beliau : Bab Lampu2 di Masjid2, yaitu memberi penerangan masjid2, hal ini adalah PERKARA YG DIANJURKAN DI DALAM MASJID2 dan melakukannya termasuk perkara2 yg dianjurkan di dalam masjid2, karena setiap perkara yg membawa maslahat dan manfaat bagi para manusia di dalam masjid maka termasuk PERKARA YG DIANJURKAN...!!!

Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila  keterangan syiakh Mushsin tsb  kita ikuti, kita tdak punya dalil yang sahih. Lantas mana dalil yang di buat pegangan oleh syaikh tsb.
Realitanya masjid masjid itu dihiasi dengan lampu yang indah, mahal dan sangat terang benderang. Anehnya  juga ketika  shalat lampu di hidupkan. Setelah selesai shalat , lampu  dimatikan dan masjid di tutup.
Tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menjalankan shalat selalu gelap, tanpa lampu. Dan ini beliau lakukan seumur hidup. Dan khulafaur Rasyidinpun  mengikuti beliau dlm hal ini tidak menentangnya sebagaimana  apa yang kita jalankan. Karena itu, kita harus kembali ikut tuntunan bukan maju untuk terus menyelisihinya.
Dodi ElHasyimi  menulis : Kayaknya pendapat Mbah Yai Mahrus Ali adalah SYADZ MULAI JAMAN SALAFUS SHALIH ASELI (pake shod) sampe sekarang.....!!!

Komentarku ( Mahrus ali ):
 Pendapat saya itu syadz / ,menyendiri era sekarang dimana masarakat seolah bersepakat  untuk menyelisihi sunnah, senang bikin kebid`aan anti sunnah.
Tapi pendapat anda yang menganjurkan  memberi lampu di masjid menentang tuntunan, menyendiri di masa sahabat – salafus sholih.
Kapan para sahabat menghidupkan lampu di masjid itu,jangan mendustai umat, jangan sesatkan mereka, kasihan sekali anda dan mereka. Berkatalah  yang jujur agar umat tercerah  dengan cahaya  sunah dan tidak tergelapkan dengan kedustaan  ulamanya.
Salafus sholih yang mana yang menganjurkan pakai lampu ?
Bila ulama kibar sekarang menganjurkan menghidupkan lampu di masjid ketika berjamaah, maka  itu adalah  fatwa yang menentang  tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengikuti hawa nafsu orang banyak.


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan