Sabtu, Februari 28, 2015

Setelah Dua Tahun Bertarung Melawan Kanker Ganas, Ummu Fatimah Tutup Usia

Setelah Dua Tahun Bertarung Melawan Kanker Ganas, Ummu Fatimah Tutup Usia


JAKARTA, Infaq Dakwah Center (IDC) – Innalillahi wa inna ilahi raji’un! Setelah dua tahun lebih berjuang melawan penyakit kanker mulut ganas, akhirnya Ummu Fatimah menyerah kepada takdir. Ibu muda bernama asli Inggita Marini itu menghembuskan nafasnya yang terakhir pada Sabtu pagi (14/2/2015) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Pukul 07.19 WIB, ia menghadap Rabbnya usai sedekah, memohon maaf dan ditalqin dua kalimat syahadat.
Berakhir sudah perjuangan menahan rasa sakit yang tiada tara selama 24 bulan di pembaringan. Semoga segala keikhlasan dan kesabaran menerima ujian penyakit kanker mulut bertahun-tahun itu menggugurkan dosanya. Dan segala amal shalih kaum muslimin yang membantu meringankan beban Ummu Fatimah dicatat sebagai amal shalih yang menjadi pemberat timbangan kebaikan di Yaumil Mizan.
Prita Rozanna, kakak kandung Ummu Fatimah yang selama ini bersabar merawat di rumah sakit, menceritakan detik-detik terakhir kepergian adiknya. Sabtu dinihari pukul 3.49 WIB hari ia dibangunkan adiknya. Dia merasa seperti tercekek. Setelah diperiksa ternyata ada kapas menutupi lubang pernafasannya. Setelah alat pernafasannya dibetulkan, Ummu Fatimah meminta maaf kepada kakaknya.
“Maafin Gita ya mbak, Mbak jangan kemana-mana,” ujar Ummu Fatimah seperti ditirukan Prita, kakaknya.
Prita pun menenangkan adiknya supaya tetap tenang. Hari menjelang subuh, ia tidak tidur lagi, sambil menunggu dokter dan perawat yang biasa keliling menjelang subuh.
Prita tidak menyangka kalau ucapan minta maaf itu adalah pernyataan terakhir sekaligus ungkapan pamit pisah Ummu Fatimah menjelang sakaratul maut.
Sesaat kemudian Ummu Fatimah tidur sebentar, tapi terbangun lagi sambil menunjuk-nunjuk lehernya. Ia pun minta dimasukkan kanol padahal kondisinya makin memburuk, nafasnya makin sulit dan mulai seperti orang kejang.
Dalam kondisi panik, ia memanggil berteriak dokter dan perawat. Setelah dokter dan perawat piket datang, tak henti-hentinya ia berusaha menuntun Ummu Fatimah dengan dua kalimat syahadat.
“Datang beberapa dokter dan perawat, waktu itu langsung saya peluk kepalanya, saya usap dadanya, saya tuntun ucapan laa ilaaha illallah. Lalu sekitar 10 menit kemudian dokter bilang, ‘Bu sudah Bu, Gita sudah tidak ada nyawanya, sudah dipanggil Allah,” kenang Prita kepada Relawan IDC saat bertakziyah, Senin (16/2/2015).

JENAZAH TAK MENGELUARKAN BAU BUSUK

Saat merawat Ummu Fatimah di rumah sakit, Prita banyak mengalami suka dan duka. Namun pengalaman detik-detik terakhirnya ia menemukan keajaiban pada jenazah adiknya.
Selama dua tahu ia bersabar merawat Ummu Fatimah dari mulai menggantikan pampers, hingga mengganti perban penutup luka, meskipun bau busuk begitu menyengat. Bahu itu sangat menyengat karena organ yang terserang kanker sudah membusuk dan mengeluarkan belatung. Melihat kondisinya saja kita tidak tega, apalagi jika membayangkan betapa dahsyat penderitaan Ummu Fatimah.
Saking busuknya, Ummu Fatimah sempat ditolak di kamar RSCM, karena pasien lain merasa terganggu dengan baunya. 
Namun subhanallah, justru ketika meninggal dunia, bau busuk kanker Ummu Fatimah itu hilang sama sekali, dan luka daging membusuk itu tidak meneteskan cairan sama sekali. Keajaiban itu disaksikan pula oleh para petugas yang memandikan jenazah Ummu Fatimah.
“Waktu dimandikan, perawat yang bertugas memandikan nanya, “Ibu cium bau sesuatu?” Saya tidak merasa mencium bau apapun. Lalu waktu itu pas selesai dimandikan saya mendekat dan langsung saya cium. Subhanallah!! Memang tidak ada yang namanya bau,” kenang Prita.
Karena bau busuknya hilang sama sekali, maka obat-obatan penghilang bau busuk yang disiapkan pihak keluarga pun tidak terpakai.
“Dibawa pulang dengan ambulan, di rumah itu sudah disiapkan bubuk kopi, kapur barus yang sudah dihaluskan, lalu arang untuk menghilangkan bau. Ternyata semua itu tidak terpakai. Dan satu hal lagi, tidak ada satu cairan pun yang menetes setelah dimandikan,” imbuhnya.
Selain itu, wajah Ummu Fatimah saat meninggal dunia nampak putih bersih. Keluarga pun berharap, semoga Ummu Fatimah husnul khatimah.
“Sampai di rumah itu adik-adik saya nangis, lihat wajah Gita yang putih sekali, tidak ada bau sama sekali. Ya Allah, mudah-mudahan dengan penderitaannya selama ini, mudah-mudahan Allah ampuni Gita, Gita husnul khatimah,” ungkapnya.

MIE INSTAN SALAH SATU PENYEBAB KANKER MULUT

Di tengah suasana duka yang mendalam, Prita menitipkan nasihat yang didapatnya dari dokter. Suatu hari salah seorang dokter yang menangani kanker mulut Ummu Fatimah, mengungkapkan empat hal pemicu kanker yang harus dihindari, di antaranya terlalu banyak mengonsumsi mie instan.
“Kata dokter, kalau mau konsumsi mie instan itu usahakan sejarang mungkin, paling banter seminggu sekali aja. Katanya di mie instan itu ada lilin untuk pengawet ditambah dengan kimia lain. Waktu itu saya ingat, Gita memang dulu orang yang gemar makan mie instan. Satu hari itu bisa 8 bungkus, bahkan kalau anak-anaknya, saudaranya makan mie tidak habis, dia yang menghabiskan sisanya itu,” paparnya.
Prita menitipkan pesan itu kepada Relawan IDC  sebagai kepedulian kepada orang lain, agar penyakit kanker mulut yang diderita adiknya, tidak terjadi pada yang lainnya.

SEDEKAH HINGGA AKHIR HAYAT

Satu-satunya kesan paling mengharukan yang dialami ibu Prita adalah spirit sedekah Ummu Fatimah. Di tengah kesibukan menjaga adiknya di rumah sakit, Prita mendapat musibah kemalingan. Rumahnya yang berada di Jonggol, Jawa Barat dibobol maling. Seluruh harta, barang berharga dan surat-surat penting miliknya raib digasak maling.
Meski mendapat musibah berat, Prita tetap bersabar dan berusaha untuk tegar di hadapan adik tercintanya yang sedang sakit. Mengetahui musibah tersebut, Ummu Fatimah yang tengah terbaring menderita kanker ganas, memberikan sedekah sejumlah uang hasil sumbangan yang dimilikinya. Subhanallah, sungguh luar biasa ketulusannya.
“Waktu itu ada musibah, rumah saya kemalingan, barang-barang saya habis dicuri. Saya tetap berusaha tabah di depan Gita, meskipun dia tahu kalau saya ada musibah. Nah, di tengah sakitnya itu, dia malah mau nyumbang buat saya dari uang sumbangan untuk dia berobat. Saya makin sedih, padahal kondisi dia yang lebih membutuhkan, tapi dia bersikeras untuk membantu saya,” ungkapnya sambil terisak tangis.
Kejadian tersebut tak akan pernah dilupakan Ibu Prita, dua kakak beradik yang saling mencintai satu sama lain dan ingin saling membantu.
Selain itu, pihak keluarga besar Ummu Fatimah juga mengucapkan rasa syukur kepada Allah dan terima kasih yang tak terhingga kepada para muhsinin yang selama ini membantu pengobatan melalui Infaq Dakwah Center (IDC).

RUQYAH TERAKHIR MENYONGSONG TAKDIR TERBAIK

Mencermati perkembangan kondisi Ummu Fatimah yang makin memprihatinkan, dalam rapat rutin IDC (6/2/2015) Direktur IDC mengusulkan penambahan jadwal kunjungan. Maka disepakati agar kunjungan, terapi ruqyah dan pemantapan aqidah ditingkatkan jadi sepekan dua kali. Ruqyah dan pendampingan dimaksudkan agar Ummu Fatimah senantiasa sabar, pasrah, mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah.
Kamis siang (12/2/2015), Tim Ruqyah menjalankan tugasnya, disaksikan oleh para pembesuk pasien lain yang satu ruangan dengan Ummu Fatimah. Dalam suasana hening, Tim Ruqyah IDC mengawali dengan tausiyah kepada keluarga Ummu Fatimah dan semua yang hadir agar tidak menerka sesuatu yang belum pasti. Karena Allah Ta’ala melarang mengharapkan kematian ketika ditimpa kesakitan yang luar biasa. Separah apapun penyakit yang diderita, dia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan kematian.
Rasulullah SAW pernah menegur ‘Abbas, paman Rasulullah SAW saat mengeluh kesakitan sampai mengharapkan kematian. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan kematian. Karena sesungguhnya, jika engkau seorang yang baik lalu diberi usia yang panjang, engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu lebih baik. Adapun jika engkau seorang yang banyak berbuat buruk lalu diberi tenggang usia, kemudian engkau berhenti dari perbuatan buruk tersebut dan bertobat, maka yang demikian itu lebih baik. Karena itu janganlah engkau mengharapkan kematian” (HR Ahmad).
Lalu Ustadz Zidan mengajak berdoa kepada Allah untuk memberikan keputusan terbaik-Nya. Bila Allah mengizinkan sembuh maka berikanlah kesembuhan terbaik, dan bila tidak mengizinkan sembuh maka berikan keputusan yang terbaik kepada Ummu Fatimah.
Sesuai petunjuk Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih, Ustadz Zidan mengajarkan sebuah doa:
“Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”
Ternyata firasat Direktur IDC benar, rupanya terapi ruqyah siang itu adalah perjumpaan terakhir Relawan IDC dengan Ummu Fatimah.

TERIMA KASIH DONATUR IDC

Keluarga besar Ummu Fatimah berterima kasih atas support, doa dan donasi kaum Muslimin yang telah membantu pengobatan Ummu Fatimah selama di rumah sakit.
“Jujur waktu itu, kita sudah sampai mau jual rumah, jual mobil untuk biaya berobat Gita. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga pada semua yang sudah membantu adik saya Inggita, baik itu berupa doa, berupa uang, semoga Allah membalas dengan kebaikan,” ujar Prita.
Usai bertakziyah di rumah duka, Jalan Paus Raya, Jati Bening, Bekasi, relawan IDC melanjutkan ziarah ke makam Ummu Fatimah. Di TPU Tanah Merah, Jakarta Timur, Blok AAI Petak 0186, Blad 047, makam Ummu Fatimah ditumpuk dengan makam ibundanya, almarhumah Rooswen binti Sutan Midin.
Semoga seluruh donatur IDC yang telah berinfaq untuk membantu pengobatan Ummu Fatimah diluaskan rezeki, dipanjangkan umur yang berkah dan bahagia, menjadi amal shalih, mendatangkan pertolongan Allah dan dibalas dengan surga Firdaus. Aamiin.
“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...” (HR Muslim). [TIM]
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan