Sabtu, Januari 31, 2015

Mesir Akan Menghadapi Skenario Seperti Suriah




JAKARTA (voa-islam.com) - Skenario seperti yang terjadi di Suriah bakal terjadi di Mesir. Mesir bukan hanya akan menghadapi  pertempuran yang sulit dan panjang melawan militan Islam, kata Presiden Abdel Fattah al-Sisi, Sabtu, 31/1/2014.
Pernyataan al-Sisi itu, hanya menggambarkan situasi di Sinai, dan sekarang merembet di seluruh wilayah provinsi Mesir. Ini akan semakin mendorong terjadinya kekacauan politik di Mesir. Apalagi, ekonomi Mesir pasca penggulingan Mursi terus merosot.
Pernyataan Presiden Mesir al-Sisi ini, tidak berapa hari setelah terjadinya serangan paling berdarah terhadap pasukan keamanan yang menewaskan 30 anggota pasukan elite Mesir.
"Pertempuran ini akan sulit, kuat, jahat dan akan memakan waktu yang lama," katanya dalam komentar yang disiarkan di televisi negara.
Sebelumnya, Sisi memimpin rapat Dewan Tertinggi negara Angkatan Bersenjata (SCAF). Al-Sisi nampaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer Mesir, khususnya menghadapi ancaman para kelompok jihadis di Sinai.
Kamis malam, terjadi empat serangan terpisah terhadap pasukan keamanan di Sinai Utara. Serangan ini  adalah di antara yang terburuk di negara itu dalam beberapa tahun terakhir ini.
Kelompok al-Baithul Maqdis di Semenjung Sinai adalah bagian dari Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS), dan mengklaim menewaskan  sedikitnya 30 tentara dan polisi.
Al-Sisi mengatakan Mesir menghadapi "organisasi rahasia terkuat di dunia," ujarnya, menunjuk Jamaah Ikhwanul Muslim di Mesir. Ketakutan pejabat militer Mesir dan al-Sisi, jika serangan di Sinai ini akan merembet ke Cairo, dan ini menjadi bencana bagi Mesir, seperti yang terjadi di Suriah.
Kekacauan di Sinai ini, tak lama sesudah al-Sisi menggulinkgan Presiden Mohammad Mursi dari kekuassaannya pada bulan Juli 2013.
Aksi penggulingan itu, diawali oleh aksi protes terhadap pemerintahan Mursi yang digalang kelompok sekuler dan liberal yang menolak Mursi, dan gerakan itu didukung oleh Zionis, dan kemudian menggunakan al-Sisi menggulingkan Mursi.
Para pejabat Mesir tidak membedakan Jamaah Ikhwanul  Muslimin, ISIS, Al-Qaeda dan Provinsi Sinai, yang sebelumnya menyebut Ansar Bayt al-Maqdis, dengan alasan kelompok-kelompok itu menjadi ancaman besar, karena mereka memiliki basis ideologi yang sama.
Ikhwanul Muslimin, yang menuduh Sisi yang melakukan kudeta terhadap Presiden Mohamad Mursi, sebagai perampok kekuasaan, saat memberikan pernyataan atas terjadinya serangan di Sinai.  Pernyataan itu dikeluarkan kantor pusat Ikhwan di London.
Menurut pejabat Ikhwan di London, serangan itu hanya ekses dari tindakan yang dilakukan militer Mesir, yang membumihanguskan kota-kota di Sinai, sesudah terjadi perang yang menewaskan sejumlah anggota militer Mesir.
Jamaah Ikhwan menuduh tentara Mesir dengan sangat keji membakar dan menghancurkan kota-kota di Sinai, dan tanpa peduli atas nasib Muslim di wilayah  itu. "Tidak ada solusi untuk situasi ini, kecuali dengan mengembalikan tentara ke barak mereka," kata pejabat Ikhwan Ibrahim Munir.
Bait al-Maqdis  yang berbasis di wilayah Sinai Mesir, yang memiliki perbatasan dengan Gaza, telah menewaskan ratusan polisi dan tentara sejak pembantaian yang dilakukan oleh al-Sisi terhadap anggota Ikhwan yang menjadi pendukung Mursi.
Pemberontakan telah menyebar ke bagian lain dari Mesir. Kelompok muda Ikhwan  yang selama ini bersabar dengan aksi damai, sekarang nampaknya sudah tidak lagi tertarik dengan aksi demo. Mereka mungkin akan melakukan aksi bersenjata melawan al-Sisi. 
Di masa pemerintahan Presiden Mohamad Mursi, berhasil menetapkan perjanjian dengan kelompok pejuang Muslim di Sinai, dan menciptakan peredaan ketegangan, dan jaminan keamanan atas Sinai. Perjanjian itu, langsung negosiasi antara Mursi dengan para pemimpin kelompok-kelompok pejuang di Sinai.
Dalam kesempatan lainnya, pemerintah Mesir telah melarang kelompok Hamas, dan melarang seluruh aktifitasnya di Mesir. Bahkan, perundingan antara Hamas dan Israel dihentikan, sesudah serangan terhadap pasukan Mesir di Sinai. 
Sekarang dengan bantuan militer dari Amerika Serikat dan Zionis, pemerintahan al-Sisi akan terus berperang menghadapi kelompok millitan yang sudah mereka sebut, seperti Ikhwan, al-Qaidah, ISIS, Bait al-Maqdis.
Nampaknya, rakyat Mesir juga sudah muak dengan al-Sisi, dan mereka sudah bergeser tidak lagi menggunakan aksi damai, dan berbalik menggunakan senjata melawan 'Fir'aun' Mesir yang sangat bengis itu. Wallahu'alam. 

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Untuk melawan kekuatan thaghut di Mesir ini yang anti pada ikhwan dan aktivis Islami, dan bersekongkol dengan pasukan kebatilan sekuler yang di topang oleh Yahudi dan Amirika . Sanngat layak bila rakyat Muslim Sinai angkat senjata, bukan tunduk merunduk kepada thaghut ini tanpa mempersiapkan diri untuk terjun di front pertempuran. Lalu  aktivis muslim  yang jihadis akan di tembaki, di jebloskan dibalik  jeruji besi, dibunuh  tanpa pengadilan dll. Kekuatan  kaum muslimin yang tunduk merunduk dan bertekuk lutut kepada thaghut ini akan di lumpuhkan, di pecah belah, bahkan ikhwan muslimin disana dilarang dan di anggap teroris. Anehnya  kekuatan Yahudi, sekuler dan syiah malah dilindungi dan tidak dianggap teroris  Pegangilah ayat ini:
الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.[1]




[1] Annisa`  76
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan