Rabu, Januari 28, 2015

Jawabanku untuk Idrus Ramli ke 38


Idrus Ramli menyatakan lagi:
Berdasarkan logika Mahrus Ali, apakah Imam al-Syafi’i,
Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah adalah orang yang
tidak mengerti agama, bahasa dain tidak menggunakan akal
sehat? Sebenarnya apabila kealiman dan kenormalan akal
seseorang diukur dengan pemahaman terhadap pernyataan
Sayyidina U’mar di atas, agaknya Mahrus Ali lah yang paling
layak disebut tidak mengerti ilmu agama, bahasa dan tidak
memiliki akal sehat.[1]

  Komentarku ( Mahrus ali): 
Bila kamu mengatakan kepada saya begitu, maka lebih baik anda diam saja agar  tidak menyesatkan umat, kasihan umat ini tersesat karenamu. Bukan mereka lurus karenamu. Sebab anda adalah pembela kebid`ahan untuk melawan tuntunan, bukan melawan kekufuran. Mestinya jadi pahlawan penegak tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  untuk membasmi kebid`ahan dan kesyirikan. Realitanya anda adalah penegak kebid`ahan dan kesyirikan untuk membasmi tuntunan dan tauhid.
Bila anda tuduhkan keritikan tersebut kepada saya, adalah salah alamat. Mestinya untukmu dan golonganmu. Sebab saya mengikuti Nabi SAW dan para sahabat yang tidak membagi bid`ah menjadi dua apalagi lima. Sedang anda mengikuti  ulama sekiranya cocok dengan nafsu anda dan membuang  pendapat ulama yang tidak segaris  dengan pemikiran anda.
Bahkan ulama  ahli bid`ah atau juhala` pun asal cocok denganmu anda ambil langsung untuk pedoman.Tuduhanmu kepada saya itu  ber arti kamu  mengatakan kepada mereka tidak mengerti ilmu agama, bahasa dan tidak memiliki akal sehat.
Kita ini diperintahkan ikut nabi dan para sahabat, lihat ayat:
وَالسَّابِقُوْنَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
9.100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. At-Taubah (9): 100
 Kita tidak ikut kepada Imam Syafii yang bertentangan dengan dalil, dan Imam Syafi`I sendiri tidak suka untuk diikuti bila salah. Imam Syafii memesan kita agar mengikuti dalil. Lihat perkataan beliau sbb:
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي.
Bila ada hadis sahih, maka  lemparkan perkataanku ke tembok. Bila kamu lihat hujjah telah berada di jalan, maka  itulah perkataan ku
 لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا.
Dalam masalah agama,jangan ikut orang, sebab  mereka mungkin juga salah.
Jangan ikut orang, tapi buang saja pendapatnya bila bertentangan dengan dalil. Ikutilah dalil yang mesti benarnya bukan pendapat kadang benar dan kadang salah. Diam lebih baik dari pada melontarkan gagasan untuk menentang ajaran Allah dan memenangkan ajaran setan.


[1] Kiyai NU atau wahabi yang sesat tanpa sadar?  21
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan