Kamis, November 27, 2014

Ini jawabanku ke 22 untuk para komentator di fbku

Kata pengantar:
Mengikuti mayoritas belum tentu benar dan lurus dan mengikuti yang gharib juga belum tentu salah dan bengkong. Ingatlah bahwa penduduk surga itu sedikit sekali , bukan banyak , apalagi mayoritas. Ingatlah ayat ini:
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". Al Isra` 62
Ini jawabanku ke 22 untuk para komentator di fbku .
Ada komentator yang saya tidak tahu namanya siapa, karena copy pastenya yang kurang lengkap – masih kurang. Tapi insya Allah, gaya tulisannya dari Ust Abu Khansa`  dari alumnus Univbraw menulis sbb:
sebenarnya jawaban Ustadz Mahrus itu khususnya terkait makna mikhlab dan implementasinya blm ada sampai dengan saat ini membuktikan bahwa itu utk ayam. Belau hanya menyebutkan maknanya adalah cakar.
Kemudian beliau menyatakan bhw Ulama yg mendefinisikannya sbg cakar utk memangsa adalah pendefinisian scr takwil, pdhal dikamus yg yg telah beliau sharing juga disebutkan bhw mikhlab khusus utk As Siba' (binatang buas) sedangkan dlm lisanul arab lebih dirinci lg yakni as siba' yg berjalan (Al Masyiy) dan yg terbang (Ath Tha-ir). Disitu juga disebutkan :
وقيل : المخلب لما يصيد من الطير ، والظفر لما لا يصيد

"DIkatakan bahwa Al-Mikhlab itu sebutan kuku untuk burung yang berburu (pemangsa), sedangkan Azh-Zhufur itu sebutan kuku untuk yang tidak berburu (bukan pemangsa)"

Memang mikhlab juga digunakan utk burung sbgmn disebut pula dlm kitab yg sama "setiap As Siba' memilki mikhlab dan bgt pula burung.
Sehingga dari sini disimpulkan bahwa mikhlab itu scr umum bisa digunakan utk As Siba' (binatang buas) dan juga burung (termasuk pula burung yg menggunakan cakarnya utk memangsa).

Mungkin yg perlu diketahui bhw Ustadz Mahrus lupa dlm hadits tsb tdk memutlakkan semua jenis burung karena dlm hadits tsb ada harf "min" yg maknanya tab'idh (sebagian), inilah qarinah jelas yg beliau pertanyakan bhw dlm hadits itu tidak mengaharam semua jenis burung ber-mikhlab namun hanya sebgaian saja?.
Disisi lain analisa Ustadz Mahrus menyatakan bahwa hadits Abu Musa itu dhaif (meski tercantum dlm shahihain) dg alasan tafarrudnya Zahdam (meski beliau perawi tsiqah), dg alasan manhaj mutaqaddimin itu membenci riwayat tafarrud meski dia tsiqah. Padahal itu bukanlah ijma' mutaqaddimin, buktinya terdapat pendapat2 spt Syafi'i, Bukhari, Muslim dll yg ternyata memang menerima keshahihan riwayat perawi tsiqah meski tafarrud.
Sehingga mereka menjadikan riwayat tsb diantara riwayat yg mentakhshish keharaman Ath Thair yg bermikhlab tsb.
Jd kesimpulannya :
1. Hadits shahih terkait keharaman dzi mikhlabin itu adalah hadits yg mengkhususkan jenis Ath Thair tertentu dg qarinah harf "min" bermakna tab'idh.
2. Hadits Abu Musa yg dishahihkan mayoritas Ulama (mkgn bs dibilang seluruh Ulama karena dasar penerimaan mereka thd hadits2 yg muttafaq 'alaih atau dlm shahihain, dan blm didapati Ulama yg mendhaifkannya, shg mjd dasar ijma' kehalalan ayam), menjelaskan pengecualian ayam sbg golongan dzi mikhlabin.
3. Ternyata dinukil dr beberapa kitab lughah dan syarah para Ulama mengkhususkan menggunakan dzufur utk dujajah/ayam misalnya spt jauhari yg dinukil dr lisanul arab
 :
يقال النسر لا مخلب له ، وإنما له الظفر كظفر الدجاجة والغراب...

"Dikatakan bahwa burung nasar kukunya tidak disebut dengan "mikhlab", tetapi disebut "zhufur" seperti kuku ayam, gagak..."
4. Ustadz Mahrus belum mendapati Ulama yg sepaham dg beliau terkait masalah ini, sehingga beliau dlm hal ini telah menyelisihi ijma' atau kalau mau dipaksakan minimal pendapat jumhur.
Wallahu a'lam. (mohon koreksi jika ada kesalahan penterjema
kalo g salah zhufur itu utk hewan yg jarinya tdk terbelah dr gol bahaim dan jg thair, dlm kitab hasyiyah Ad Dasuqi thd Syarh Al Kabir disebutkan

: }
ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻫﺎﺩﻭﺍ ﺣﺮﻣﻨﺎ ﻛﻞ ﺫﻱ ﻇﻔﺮ { ﻓﻴﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺃﻛﻞ ﻣﺎ ﺫﺑﺤﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻫﻲ ﺍﻹﺑﻞ ﻭﺍﻟﻨﻌﺎﻡ ﻭﺍﻹﻭﺯ ﻻ ﺍﻟﺪﺟﺎﺝ )

"FirmanNya :"Dan kepada orang-orang Yahudi Kami haramkansegala binatang yang berkuku" (Q.S. Al-An'am:
146)
Diharamkan kpd kita memakan hewan sebelihan mereka jenis itu, yakni unta, burung unta ,dan angsa bukan ayam"
dzi zhufurin (pd Qs. Al An'am :146) ditafsiri oleh Ibnu Jarir sbb

:
ﻛﻞ ﺫﻱ ﻇﻔﺮ"، ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻬﺎﺋﻢ ﻭﺍﻟﻄﻴﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺸﻘﻮﻕ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ، ﻛﺎﻹﺑﻞ ﻭﺍﻟﻨﻌﺎﻡ ﻭﺍﻹﻭﺯ ﻭﺍﻟﺒﻂ 

FirmanNya"Setiap yg ber-zhufur" yaitu dari gol bahaim dan burung yg jarinya tdk pecah, spt unta, burung unta, angsa, bebek"
Dlm tafsir ath thabari disebutkan hewan2 yg dzi zhufurin diantaranya :
1. Ibnu Abbas dan Mujahid

:
ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻗﻮﻟﻪ:)ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻫﺎﺩﻭﺍ ﺣﺮﻣﻨﺎ ﻛﻞ ﺫﻱ ﻇﻔﺮ(، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ
ﻭﺍﻟﻨﻌﺎﻣﺔ

Diatas beliau menyebutkan Al ba'ir (unta) dan an na'amah (burung unta)
2. Sa'id bin Jubair :

عن سعيد بن جبير في قوله: (وعلى الذين هادوا حرمنا كل ذي ظفر)، قال: كل شيء متفرق الأصابع, ومنه الديك 

disitu disebutkan setiap hewan yg terpisah jemarinya diantaranya ad diyku(ayam jantan)
dll dari tafsir salaf spt qatadah, As Sudiy, Ibnu Abi Najih, dll yg saya rasa serupa

cek juga Tafsir Al Baghawiy yg serupa dg penjelasan Ath Thabari ttg dzi zhufurin termasuk diantaranya angsa dan bebek. Jadi dlm ayat tsb berfaidah Allah mengharamkan segala jenis hewan yg berkuku (dzi zhufurin) kepada Yahudi :

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ 

"Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku" (Qs. Al An'am : 146)
Nah apakah kita akan mengikuti Syariatnya Yahudi yg diharamkan kepada mereka setiap hewan berkuku (kulla dzi zhufurin)? dimana Lafadh yg digunakan disana adl "kulla" tdk ada yg mentakhshishnya, kemudian jika disandingkan dengan hadits shahih ttg pengharaman saetiap yg bercakar "dari" burung (kulli dzi mikhlabin "MIN" ath Thair) apakah bisa dipaham kita mengikuti syariatnya Yahudi dlm pengharaman ayam, bebek dan yg serupa dg itu?
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Anda menyatakan:

sebenarnya jawaban Ustadz Mahrus itu khususnya terkait makna mikhlab dan implementasinya blm ada sampai dengan saat ini membuktikan bahwa itu utk ayam. Beliau hanya menyebutkan maknanya adalah cakar.
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Sebenarnya akar persoalan mulai awal hingga akhir adalah mikhlab dajaj – cakar Ayam. Dan mulai awal sudah  di bahas masalah Ayam haram. Dan pengertian mikhlab juga begitu sudah dibahas mulai awal bahwa  cakar Ayam juga termasuk mikhlab. Bila cakar Ayam tidak dimasukkan mikhlab, maka bertentangan dengan bahasa harian mikhlabud dajaj, wikipedia dan kamus. 
Saya pernah menjawab sedemikian :
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
Rasulullah SAW melarang  setiap binatang buas bertaring dan setiap burung yang punya cakar HR Muslim  1934
Jadi menurut njenengan  Kiyai Ahmad Rifai Alif makan Ayam dan burung itu mengikuti sahabat dengan baik bukan menyelisihi mereka dengan jelek, lalu mana  dalilnya mereka memakannya ?
Di tempat lain, saya juga pernah menulis :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
Hadits ini harus kita simpan dulu, sebab di sana tidak ada kata Dajaajah…meskipun takwilan Wikipedia mengatakan ayam adalah jenis dari burung….
Saya jawab:
Sebetulnya hadis tsb  sudah jelas, tidak samar lagi. Karena kalimat mikhlab di takwil atau  ditafsiri  dengan  cakar yang memangsa. Ini yang menjadikan pengertiannya kabur. Tidak jelas  seperti  arti semula. Bila di artikan  spt  di kamus  yaitu  mikhlab  cakar  baik yang memangsa  atau  tidak, maka persoalan  selesai dan tidak berlarut – larut sampai kapanpun akan tetap menjadi persoalan seolah tidak ada solusinya.
Solusinya yang lain adalah ikut istri  Rasul dan  para  sahabat yang tidak makan Ayam. Ini cukup jelas.
Anda menyatakan lagi:
Kemudian beliau menyatakan bhw Ulama yg mendefinisikannya sbg cakar utk memangsa adalah pendefinisian scr takwil,
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Maksud saya adalah asal arti cakar itu  umum baik yang memangsa atau bukan. Biarkan arti umum, jangan dihususkan untuk  cakar yang memangsa, lalu cakar Ayam bukan mikhlab karena tidak memangsa. Penghususan arti mikhlab dengan cakar yang memangsa ini pelintiran, bukan arti yang sebenarnya tapi arti palsu. Istilah saya "dengan ditakwil". Ya`ni asalnya untuk umum lalu dihususkan untuk yang memangsa dan cakar Ayam tidak  termasuk.
Anda menyatakan lagi
pdhal dikamus yg yg telah beliau sharing juga disebutkan bhw mikhlab khusus utk As Siba' (binatang buas)
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Memang ada sebagian kamus yang mengartikan mikhlab untuk binatang buas, juga ada kamus yang mengartikan mikhlab dengan cakar mutlak. Bahkan di kamus atabik  indonesia arab.  ada kalimat mikhlabud dajaj , langsung diartikan cakar Ayam.
Anda menyatakan lagi:
sedangkan dlm lisanul arab lebih dirinci lg yakni as siba' yg berjalan (Al Masyiy) dan yg terbang (Ath Tha-ir). Disitu juga disebutkan :
وقيل : المخلب لما يصيد من الطير ، والظفر لما لا يصيد

"DIkatakan bahwa Al-Mikhlab itu sebutan kuku untuk burung yang berburu (pemangsa), sedangkan Azh-Zhufur itu sebutan kuku untuk yang tidak berburu (bukan pemangsa)"
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Terjemahan kurang enak .
Tepatnya adalah :
Al-Mikhlab itu cakar untuk burung yang berburu (pemangsa), sedangkan Azh-Zhufur itu cakar untuk yang tidak berburu (bukan pemangsa)"

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Istilah  waqila – menurut guru saya  dulu sewaktu saya belajar di pondok pesantren Langitan, kalimat waqiila  itu menunjukkan pendapat yang lemah.
Jadi mikhlab untuk cakar hewan pemangsa dan zhufur  untuk  hewan yang tidak memangsa  adalah  pendapat lemah, bukan pendapat yang kuat yang layak di buat pegangan. Jadi lepaskan saja.
Anda menyatakan lagi:

Memang mikhlab juga digunakan utk burung sbgmn disebut pula dlm kitab yg sama "setiap As Siba' memilki mikhlab dan bgt pula burung.
Sehingga dari sini disimpulkan bahwa mikhlab itu scr umum bisa digunakan utk As Siba' (binatang buas) dan juga burung (termasuk pula burung yg menggunakan cakarnya utk memangsa).
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Benar apa yang anda  katakan ya Ustadz Abu Khansa`
Anda menyatakan lagi:

Mungkin yg perlu diketahui bhw Ustadz Mahrus lupa dlm hadits tsb tdk memutlakkan semua jenis burung karena dlm hadits tsb ada harf "min" yg maknanya tab'idh (sebagian), inilah qarinah jelas yg beliau pertanyakan bhw dlm hadits itu tidak mengaharam semua jenis burung ber-mikhlab namun hanya sebgaian saja?.
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Sebetulnya masalah yang mirip dengan apa yang anda katakan itu sudah di jawab.
Kalimat min disitu yang dimaksud adalah dari hadis:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
Rasulullah SAW melarang  setiap binatang buas bertaring dan setiap burung yang punya cakar HR Muslim  1934

Asal arti menurut urutan bahasa :  Rasulullah SAW melarang  setiap hewan bertaring dari binatang buas dan setiap yang punya cakar dari Burung.

Bila  anda membahas masalah min , di kalimat minat thoiri , maka anda harus  bahas kalimat min  dari kalimat minas siba`.  Apakah ada binatang buas yang tidak bertaring dan apakah  ada Burung yang tidak bercakar.
 Dan realita yang perlu di perhatikan dan tidak boleh di abaikan adalah para  sahabat tidak makan Ayam dan kita tiap hari makan Ayam dan Telor. Jadi kita ini termasuk generasi yang menyelisihi  sahabat dengan jelek bukan mengikuti mereka dengan baik sebagaimana ayat:
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.  Tobat 100.


Anda menyatakan lagi:

Disisi lain analisa Ustadz Mahrus menyatakan bahwa hadits Abu Musa itu dhaif (meski tercantum dlm shahihain) dg alasan tafarrudnya Zahdam (meski beliau perawi tsiqah), dg alasan manhaj mutaqaddimin itu membenci riwayat tafarrud meski dia tsiqah. Padahal itu bukanlah ijma' mutaqaddimin, buktinya terdapat pendapat2 spt Syafi'i, Bukhari, Muslim dll yg ternyata memang menerima keshahihan riwayat perawi tsiqah meski tafarrud.
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Imam Syafii mensahihkan riwayat tafarrud ini perlu  refrensi arabnya dan anda belum membawakannya. Hal  itu penting, perlu diperhatikan.  Dan sudah dijelaskan, tidak semua hadis di sahihain ( Bukhari dan Muslim ) itu mesti sahih, kadang lemah, hasan dll. Dan masalah ini sudah di jawab, lihatlah disana.
Saya kutipkan  sedikit dari jawaban yang lalu sbb:
Muhammad al amin sbb:

اعلم أن هناك أحاديثاً في الصحيحين ضعفها علماءٌ محدثون كثر. وما حصل إجماعٌ على صحة كل حديثٍ في الصحيحين، لا قبل البخاري ومسلم ولا بعدهما. فممن انتقد بعض تلك الأحاديث: أحمد بن حنبل وعلي بن المديني ويحيى بن معين وأبو داود السجستاني والبخاري نفسه (ضعف حديثاً عند مسلم) وأبو حاتم وأبو زرعة الرازيان وأبو عيسى الترمذي والعقيلي والنسائي وأبو علي النيسابوري وأبو بكر الإسماعيلي وأبو نعيم الأصبهاني وأبو الحسن الدارقطني وابن مندة والبيهقي والعطار والغساني الجياني وأبو الفضل الهروي بن عمار الشهيد وابن الجوزي وابن حزم وابن عبد البر وابن تيمية وابن القيم والألباني وكثير غيرهم. فهل كل هؤلاء العلماء قد مبتدعة متبعين غير سبيل المؤمنين؟!
فالحديث الذي يخرجه البخاري أو مسلم، ولا يخرجه أحمد، هو حديث غريب. وقد يكون صحيحاً وقد لا يكون. ولكن هذه من الإشارات التي يجب الانتباه إليها.
Ketahuilah bahwa banyak hadis dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim yang telah dilemahkan  oleh pakar – pakar ahli hadis. Dan tidak terdapat Ijma` untuk mensahihkan  setiap hadis dalam sahih Bukhari dan Muslim . Baik  dari Bukhari dan Muslim sendiri atau ulama setelah keduanya.
Diantara imam yang mengkritisi  sebagaian hadis – hadis tsb adalah Imam Ahmad bin Hambal , Ali bin  Al madini, Yahya bin Ma`in , Abu Dawud al Sijistani, Bukhari sendiri ( juga melemahkan hadis  di sahih Muslim ), Abu Hatim, Abu Zar`ah al raziyan, Abu Isa al Tirmidzi, al Uqaili, Nasa`I , Abu ali al Naisaburi , Abu Bakar al Ismaili , Abu  Nuaim al asbihani, Abul Hasan al daroquthni, Ibnu Mandah, Baihaqi , al atthar , Al Ghassani al jiyani, Abul fadhel al harawi bin Ammar  al Syahid , Ibn Jauzi, Ibn Hazm , Ibn Abdil bar, Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim , Al Bani dan masih banyak selain  mereka.
Apakah ulama – ulama yang telah disebut namanya itu ahli bid`ah, yang mengikuti jalan kafirin atau  bukan jalan mukmin.



Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50




Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan