Jumat, September 26, 2014

Penyesatan Idrus Ramli ke 30



Muhammad Idrus Ramli menyatakan lagi:
Tim LBM NU Jember menyampaikan dalam buku M KB
bahwa pembagian bid'ah menjadi dua, yaitu bidah hasanah
dan bid'ah sayyi'ah yang merupakan pendapat mayoritas
 ulama, antar lain al-Imam al-Syafi'i al-Hafizh Ibnu Abdil
Bar al-MaIiki\ al-Imam al-Nawawi , al-Amir al-Shan`ani , al
Syaukani dan lain-lain, termasuk para ulama yang menjadi
rujukan utama sekte Wahabi seperti Ibnu Taimiyah.

 
Komentarku ( Mahrus ali):
Salah satu ulama yang anda tunjukkan disitu adalah Syaukani, namun lihat pemahaman Syaukani dalam masalah maulid lain dengan pemahaman golongan anda sbb:
قَالَ الْعَلَّامَةُ الشوكاني عَنْ بِدْعَةِ الْمَوْلِدِ :
لَمْ أَجِدْ إِلَى الْآنَ دَليلاً يَدُلُّ عَلَى ثُبُوتِهِ مِنْ كِتَابٍ, وَلَا سُنَّةٍ, وَلَا إِجْمَاعٍ, وَلَا قِيَاسٍ, وَلَا اِسْتِدْلاَلٍ, بَلْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ أَنَّه لَمْ يُوجَدُ فِي عَصْرِ خَيْرِ الْقُرُونِ, وَلَا الَّذِينَ يَلُونَهُمْ وَلَا الَّذِينَ يَلُونَهُمْ, وَأَجْمَعُوا أَنَّ الْمُخْتَرِعَ لَهُ السُّلْطَانُ الْكُرْدِيَّ الْمُظَفَّرَ أَبُو سَعِيدَ كوكبوري بْنُ زَيْنِ الدِّينِ عَلِيٌّ سبكتكين صَاحِبُ أَرِيل )
(
رِسَالَةٌ فِي حُكْمِ الْمَوْلِدِ ضِمْنَ مَجْمُوعِ الْفَتْحِ الرَّبَّانِيِّ
Al allamah as syaukani berkata tentang bid`ah maulid.
Aku tidak menjumpai  sampai sekarang dalil yang menunjukkan adanya maulid dari kitab suci, hadis, Ijma`,Qiyas, istidlal ( mengambil dalil lain). bahkan kaum muslimin telah ijma` bahwa maulid itu tidak ada di era abad terbaik, generasai sesudahnya atau generasi lanjutannya. Mereka  ijma` bahwa permulaan orang yang membikin kebid`ahan ini adalah sulthan Kurdial Mudhoffar Abu Sa`id kaukaburi bin Zainuddin Ali sabuktakin penguasa Aril
      Risalah  fii hukmil maulid dalam majmu` rabbani. 
Syaukani berkata  lagi;
نيل الأوطار – الشوكاني – ج ٢ – الصفحة
نيل الأوطار – (ج 3 / ص 13)
فَعَلَيْك إذَا سَمِعْت مَنْ يَقُولُ هَذِهِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ بِالْقِيَامِ فِي مَقَامِ الْمَنْعِ مُسْنِدًا لَهُ بِهَذِهِ الْكُلِّيَّةِ وَمَا يُشَابِهُهَا مِنْ نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ } طَالِبًا لِدَلِيلِ تَخْصِيصِ تِلْكَ الْبِدْعَةِ الَّتِي وَقَعَ النِّزَاعُ فِي شَأْنِهَا بَعْدَ الِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّهَا بِدْعَةٌ ، فَإِنْ جَاءَك بِهِ قَبِلْته ، وَإِنْ كَاد كُنْت قَدْ أَلْقَمْته حَجَرًا وَاسْتَرَحْت مِنْ الْمُجَادَلَةِ.
Bila kamu mendengar orang yang bilang ini bid`ah hasanah, hendaklah kamu bersikap melarang dengan berpegangan kepada dalil umum dan sesamanya,  semisal sabda Rasulullah SAW: “Setiap bid`ah sesat”. Lantas minta  dalil yang mentahsis atau mengecualikan bid`ah yang diperdebatkan itu, setelah disepakati ia adalah bid`ah. Bila dia datang dengan dalil, terimalah. Bila dia mengelak, maka kamu telah menutup mulutnya dengan batu dan kamu  bisa istirahat dari perdebatan. Nailul autar  13/3

Untuk menjawab perkataan orang yang berlandaskan dari Imam Syafii sbb:
الْجَوَابُ عَنْ هَذِهِ الشُّبْهَةِ:
أَوَّلاً: لاَيَجُوْزُ أَنْ يُعَارَضَ كَلاَمُ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِكَلاَمِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ, كَائِنًا مَنْ كَانَ, فَكَلاَمُ النَّبِيِّ حُجَّةٌ عَلَى كُلِّ اَحَدٍ, وَلَيْسَ كَلاَمُ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حُجَّةً عَلَى كَلاَمِ النَّبِيِّ .
Jawaban atas kesamaran ini :
1.    Tidak di perkenankan mempertentangkan perkataan Rasulullah   dengann perkataan seseorang, siapapun orangnya  > perkataan Nabi   adalah hujjah  atas seseorang bukan sebaliknya yaitu perkataan orang menjadi hujjah atas perkataan Nabi 
Itulah jawabab Syaikh Abd Qayyum as suhaibani dalam risalahnya  yang berharga : Alluma` firr raddi ala muhassinil bida`- Bekal untuk menjawab ahli bid`ah hasanah.  Untuk selanjutnya bisa anda lihat di buku saya: Kesesatan kiyai pendukung bid`ah hasanah.

قالَ الْحافِظُ اِبْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ رَحِمَهُ الله :
فَالْبِدْعَةُ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ مَذْمُومَةٌ ، بِخِلاَفِ اللُّغَةِ ، فَإِنَّ كُلَّ شَيْءٍ أُحْدِثَ عَلَى غيرِ مَثَّالٍ يُسَمَّى بِدَعَةً سَواءُ كَانَ مَحْمُودًا ، أَوْ مَذْمُومًا اِنْتَهَى.
فَتْحُ الْبَارِي
 “( 13 / 253
Al Hafidh Ibn Hajar al asqalani  rahimahullah  berkata: Bid`ah menurut syara` adalah tercela, berlainan  dengan bid`ah lughowi. Sesungguhnya setiap sedsuatu yang di ada- adakan dan tiada contohnya dimasa lalu  maka  dikatakan bid`ah  baik yang terpuji  atau tercela. …….
Fathul bari  253/13



Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfren)



Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan