Kamis, Juli 31, 2014

Australia Alami Prabowo-Phobia



Oleh: Teguh Setiawan
nasional - Selasa, 24 Juni 2014 | 19:01 WIB

INILAHCOM. Jakarta - Seorang kawan mengirim artikel dari inside.org.au berjudul Indonesia On the Knife’s Edge, dengan tanggal publikasi 17 Juni 2014. Kawan lainnya mengatakan ada artikel yang lebih baru tentang capres Prabowo Subianto, juga ditulis orang Australia tapi dalam Bahasa Indonesia. Ia memberi link-nya.

Setelah saya buka, artikel bertajuk Demokrasi Indonesia Dalam Bahaya yang dipublikasikan asiapacific.anu.edu.au itu ternyata terjemahan dari artikel yang dipublikasikan inside.org.au.

Penulisnya Edward Aspinall, dosen dan peneliti politik Indonesia di Australian National University dan penerima Australian Research Council Future Fellow. Tanggapan atas tulisan Aspinall di dua situs itu cukup lumayan, dan memicu perdebatan, pro dan kontra.

Bagi sebagian orang, artikel itu menarik karena dibuka dengan kalimat provokatif; "Dunia luar seharusnya khawatir akan kemungkinan Prabowo Subianto menjadi presiden Indonesia. Jika itu terjadi, pecundang paling besar adalah bangsa Indonesia sendiri."

Paragraf pertama berisi pujian akan sukses Indonesia sebagai negara demokrasi, ketika Thailand dikuasai militer, Malaysia dan Singapura yang tak beranjak dari sistem semi-demokratik. Pada alinea berikutnya, Aspinall menulis; "Kini Indonesia menghadapi tantangan besar tidak hanya mengenai kualitas demokirasi, tapi juga apakah demokrasi akan bertahan."

Berikutnya adalah pandangan Aspinal tentang Joko Widodo. Aspinall menyebutnya leading candidate, produk murni era demokratik, tanpa pengalaman politik di era Orde Baru, dengan prestasi sebagai Wali Kota Solo dan eksportir furnitur. Tidak ubahnya relawan di media sosial, Aspinall memuji Jokowi setinggi langit.

Aspinal membuka paragraf tentang Prabowo dengan menuliskan janji-janji capres dari Partai Gerindra. Setelah itu, "Berbanding terbalik dengan Jokowi, Prabowo adalah produk produk murni dari otoritarianisme Orde Baru Presiden Suharto (1966-1998)."

Setelah itu tidak ada yang baru. Aspinall, seperti semua media mainstream anti-Prabowo di Indonesia, menjembreng segala yang disebut bukti pelanggaran HAM capres nomor satu dan pemecatannya oleh Presiden BJ Habibie.

Namun ia juga bertanya; "Bagaimana kita menjelaskan peningkatan pesat dukungan terhadap Prabowo?" Mengutip Marcus Mietzner, rekannya dari ANU, Aspinall mengatakan; salah satu penjelasannya adalah kampanya Jokowi telah kurang terorganisir, sedangkan Prabowo mendapatkan dukungan masif dua taipan media di Indonesia dan tentara bayaran cyber. Namun Aspinall tidak bercerita tentang cyber army Jokowi, yang bekerja jauh hari sebelum kampanye.

Kalimat Aspinall menjadi sarkastis ketika membicarakan materi kampanye Prabowo. Ia menyebut Prabowo politisi demagog, yang mencampur tema nasionalis dan populis dalam kampanye. Semua disampaikan dalam bahasa dramatis, militan, dan meledak-ledak.

Selanjutnya adalah analisa Aspinall, yang mengarah pada upaya demonisasi Prabowo. Bahwa Prabowo akan menimbulkan regresi otoriter, dan Jokowi akan menjamin 'konsolidasi lambat' sistem demokrasi di Indonesia.

Bagi pengamat politik luar negeri, terutama pemerhati sejarah diplomasi Indonesia-Australia, tulisan Aspinall tidak istimewa. Sejarah diplomasi kedua negara adalah hubungan ketidak-percayaan, saling curiga, phobia Australia akan ancaman dari Indonesia, dan lainnya.

Semua itu melahirkan berbagai skandal, mulai dari Operasi Claret di era Orde Lama, upaya sistematis Australia mendestabilisasi Indonesia dengan diam-diam menyokong separatisme di Timor Timur dan Papua di era Orde Baru, dan skandal penyadapan terhadap pejabat Indonesia oleh Kedubes Australia di Jakarta di era pemerintahan SBY.

Khusus yang terakhir, Australia tidak meminta maaf. PM Tonny Abbot lebih suka menunggu sampai pilpres di Indonesia usai, dan presiden terpilih adalah figur lembek yang menjamin diplomasi kedua negara dimulai lagi tanpa harus membukungkukan badan meminta maaf.

Di hari-hari pertama kampanye, ketika hasil survei memperlihatkan Jokowi selalu unggul, Australia mungkin sangat yakin Pilpres Indonesia menghasilkan 'presiden yang disuka'.

Namun ketika hasil survei pekan terakhir ini memperlihatkan popularitas Prabowo meningkat, Australia mulai dilanda phobia. Aspinall menggambarkan phobia di kalangan elit Australia dengan baik.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan