Sabtu, Juni 28, 2014

LSI : Tren Blusukan Jokowi Basi, Elektabilitas Menurun Drastis

Jakarta, HanTer - Melejitnya elektabilitas calon presiden nomor urut dua Joko Widodo biasa dipanggil Jokowi karena hobinya yang suka 'blusukan'. Kini kecenderungan itu sudah kurang, sebab masyarakat sudah bosan.

Menurut Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby mengatakan sampai saat ini kubu Jokowi-JK belum membuat gebrakan atau isu-isu baru selain 'blusukan' yang bisa membuat elektabilitasnya meroket. Padahal, saat ini masyarakat sudah melupakan isu 'blusukan' Jokowi.

"Pasca periode puncak elektabilitas Jokowi yang terjadi sebelum Pileg 2014, belum ada sesuatu yang fresh dan baru dari Jokowi setelah fenomena 'blusukan' yang melekat kuat pada diri Jokowi," kata Adjie, Minggu (15/6).

Menurut Adjie hal itu yang menjadikan elektabilitas Jokowi tidak mengalami perkembangan dan hampir disalip oleh lawannya yakni Prabowo Subianto.

"Laju elektabilitas Jokowi mengalamai stagnan, puncak elektabilltas Jokowi ada di Pileg," bebernya.

Sementara capres Prabowo Subianto semakin tampil dengan strong leadership-nya dan membuat gebrakan baru untuk meraih dukungan masyarakat. Sebab dari hasil survei yang dilakukan, masyarakat memerlukan pemimpin yang tegas dan hal ini ada pada Prabowo.

"Prabowo semakin tampil dengan strong leadership-nya yang memang dirindukan masyarakat," tegas Adjie.

Bahkan Prabowo berhasil melakukan komunikasi dan meraih dukungan dari mesin politik dan tokoh penarik suara yang kecewa dan mengalami kemuntuan dalam membangun komunikasi dengan kubu Jokowi pasca Pileg berlangsung. Hal tersebut seperti bisa dilihat dari partai dan tokoh yang mendukung Prabowo-Hatta.

"Mesin politik dan tokoh tersebut seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, Hari Tanoe yang memiliki stasiun TV, Rhoma Irama yang punya banyak masa," tutup Adjie.

(Luki)
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan