Minggu, Juni 08, 2014

Fuad Bawazir : Rakyat Indonesia Jangan Ketipu Kesederhanaan Jokowi




JAKARTA (voa-islam.com) - Fuad Bawazier mengingatkan rakyat Indoenesia terhadap sosok calon presiden yang diusung PDIP, Jodo Widodo (Jokowi). Karena, di berbagai sudut pelosok wilayah, terlihat terpampang spanduk, plakat, dan bendera kecil yang bergambar ‘Jokowi’, dengan jargon sebagai pemimpin yang ‘jujur, sederhana, dan merakyat.
Tiga kata, yaitu ‘jujur, sederhana, dan merakyat’ itu benar-benar ingin dilekatkan di kepala setiap rakyat Indonesia. Ini mengingatkan seperti menjelang kemenangan Megawati pada pemilu pertama awal ‘Reformasi’ tahun l999, di mana Mega selalu dilekatkan sebagai ‘Ratu Adil’, dan pembela nasib ‘wong cilik’, sehingga rakyat berduyun memberikan dukungan politik kepada Mega.
Tetapi, ketika rakyat sudah memilih Mega, semua kecelik alias tertipu, dan ‘Ratu Adil’ itu, tidak pernah ada, dan hanya sebuah ‘glembuk’(tipuan) yang diciptakan jaringan pendukung Mega. Sekarang diulang lagi, ketika zaman Jokowi ini, seakan-akan ‘Glembuk Solo’ ini, benar-benar akan menjadi pembela ‘wong cilik’ yang sekarang ini hidupnya semakin susah. Melalui media massa, media sosial, dan telivisi si ‘Jokowi’ ini ditasbihkan sebagai pemimin yang akan membela ‘wong cilik’ alias rakyat jelata.
Jokowi blusukan ke kampung-kampung, pasar-pasar, pergi ke KPU naik bajaj, dibuat film makan lesehan antara Jokowi, JK, dan seorang perempuan miskin, seakan-akan begitu dekatnya Jokowi dengan rakyat kecil. Pergi mendeklarasikan pencapresannya bersama dengan JK ke Gedung Juang dengan naik sepeda ‘ontel’. Pokoknya citra Jokowi sebagai pembela ‘wong cilik’ diciptakan.
Tetapi, menurut pendapat mantan Menteri Keuangan di zaman Soeharto, Fuad Bawazir, mengatakan sejatinya masa kejayaan ekonomi neolib (neo-liberalisme) seperti sekarang ini, menurut Fuad, para kapitalis asing (multi natonial corporation) maupun kapitalis dalam negeri, tidak menginginkan kejayaan mereka cepat berlalu, dan habis.
Dalam masa neolib ini kedaulatan negara (rakyat) kalah dengan kedaulatan pasar (kapitalis). "Naiknya Prabowo dikhawatirkan (ditakuti) akan mengakhiri kejayaan para kapitalis ini. Mereka menginginkan presiden yang lemah, peragu, tanpa direction sendiri (bisa diarahkan pihak lain) dan untuk itu pilihan kapitalis jatuh pada Jokowi," ujar Fuad, Jakarta, Minggu (8/6/2014).
Fuad adalah mantan politikus Partai Hanura. Dia mengundurkan diri, karena sikapnya berseberangan dengan Jenderal Wiranto yang mendukung Jokowi. Partai Hanura mendukung Jokowi-JK, sedangkan dirinya memilih Prabowo-Hatta. Mantan Dirjen Pajak dan Menteri Keuangan ini tidak ingin rakyat dan bangsa menyesal di kemudian hari, karena salah pilih.
Pemilu Presiden 2014 untuk mencari pemimpin nasional. "Dan terhadap mereka yang pilih Jokowi karena sederhananya, saya ingatkan bahwa kita ini sedang mencari pemimpin nasional, bukan mencari orang sederhana! Sudah banyak bahkan jutaan orang Indonesia yang lebih sederhana dari Jokowi," tegasnya. Kalau salah pilih pemimpin berakibat buruk selama lima tahun.
Jokowi dimodali oleh para cukong Cina yang dibelakangnya, termasuk Singapura yang tidak ingin ada pemimpin Indonesia yang kuat. Singapura pernah terlibat menjatuhkan Presiden BJ Habibie, karena negeri ‘Yahudi Asia’ tidak ingin Indonesia dipimpin oleh orang yang kuat seperti Habibie.
Sekarang mereka berada di belakang Jokowi, yang akan dijadikan boneka Singapura, dan para cukong Cina yang bercokol di negeri Singa itu. (afgh/dbs/voa-islam.com)
Artikel Terkait

1 komentar:

  1. nah pemerintahan jokowi ini sedang diwelehke sama Alloh swt karena pengakuan sbg ratu adil baik secara langsung maupun tdk langsung dan para simpatisan jokowi kalo petrok jadi ratu inilah julukan yg pas

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan