Selasa, Juli 30, 2013

SMS dari Purworejo tentang i`tikaf



SMS dari Sadi Purworejo
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Ustad, i'tikaf yg sesuai 
sunnah itu sprti apa? Benarkah berdiam diri di mesjid dan tdk boleh 
keluar. Jika ana                     i'tikaf dimasjid, masuk ke mesjid jam 2 siang, kmudian melakukan
 kgiatan i'tikaf terus keluar kerja. Ashar kembali ke mesjid berjama'ah.
 Jelang mghrib pulang utk berbuka dan kembali ke mesjid sampe subuh terus pulang 
mandi dan kerja lagi. Dmikian sirkulasinya. Apakah yg dmikian itu 
diperbolehkan? Syukron

Saya jawab: Boleh , tapi tidak pas dengan tuntunan yang ada.
Komentarku ( Mahrus ali): 
Lihat tuntunannya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلميَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.[1]
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلمكَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”[2]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir, bukan kerja terus. Hal sedemikian ini di lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan rida Allah , hususnya mendapati  malam lailatul qadar, untuk menghindari dari segala kesibukan duniawi lalu di sibukkan dengan  urusan Ukhrawi, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[3]' Hal itu di lakukan siang dan malam.
Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[4]
Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.
'



Mau nanya hubungi kami:
088803080803.( Smart freand) 081935056529 ( XL )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo. Jatim.






[1] HR. Bukhari no. 2044.

[2]  HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172.
[3]
Latho-if Al Ma’arif, hal. 338

[4] HR. Bukhari no. 2041.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan