Selasa, Juli 30, 2013

CERITA MENGHARUKAN DARI MEDAN RAB'AH ADAWADIYAH


 

 "Saya telah berdoa kepada Allah, agar menganugerahkan kematian di tempat ini" -Mohammed-

Sepekan lalu mobil saya mogok sewaktu berada di sekitar Rabaa. Ketika mencari-cari bengkel terdekat, saya diberitahu bahwa ada seorang montir di tengah massa aksi unjuk rasa, lalu saya diantar menuju tendanya.


Semua orang menyebutnya "Mohammed sang montir listrik". Jika ada mobil yang rusak, mereka bakal langsung menguhubunginya. Sejenak saya beranggapan bahwa ia ikutan unjuk rasa cuma untuk cari duit dari orang yang sedang punya masalah seperti saya, namun ternyata ia menolak pembayaran saya untuk jasa perbaikan mobil yang diberikannya.


Maka saya tanya dia: "Kelihatannya Anda sudah lama ikut unjuk-rasa ini, bagaimana Anda mengurus rumah tangga keluarga Anda?" Ia membalas dengan jawaban: "Saya telah bekerja selama lebih dari 20 tahun untuk momen seperti hari ini. Saya memeroleh pendapatan yang cukup baik, membangun rumah untuk keluarga saya,

merawat dan membesarkan putri-putri saya sampai mereka menikah. Sekarang hanya ada saya dan istri saya, dia ada di rumah dan bisa mengurus dirinya sendiri."

Terkejut oleh jawabannya, saya lanjut bertanya: "Apakah Anda tidak akan kembali ke mereka?" "Doakan saya agar wafat di sini. Saya telah berdoa kepada Allah agar ,menganugerahkan kematian di tempat ini, jika itu terhitung sebagai kesyahidan."


Kami pun bertukar nomor ponsel lalu berpisah. Sejak saat itu, ia menelepon setiap hari untuk menyapa saya, sampai tadi malam, ketika dia berkata "Kamu pulanglah, kamu punya si kecil yang sedang menunggumu. Saya merasa malam ini akan menjadi malam terakhir."


Begitu saya mendengar kabar pembantaian di Rabaa, saya langsung menghubunginya. Dia tidak mengangkat 3 kali berturut-turut panggilan telepon saya. Saya merasa dia telah gugur sebagaimana doanya. Lalu saya kirimkan sebuah pesan singkat: "Aku tahu Engkau tidak akan membalas pesan ini, Mohamed, dan saya betul-betul mendoakan Engkau telah membuktikan bahwa yang kau lakukan ialah hal yang benar."


Sejurus kemudian saya menerima balasan: "Dia beriman kepada ALlah dan gugur dalam jalan iman, ini saya Dr Tariq dari rumah sakit darurat, tolong kontak keluarganya untuk menghadiri shalat jenazah sebelum pemakamannya."(islamedia) 




Komentarku ( Mahrus ali): 
Mati di jalan Allah impian setiap muslim yang ingin bahagia di akirat, dan ia suatu hal yang di takuti oleh kaum munafikin, liberal, nasionalis yang ingin bahagia di dunia dengan korup, menipu, berdusta, jalan haram dan menganiaya rakyat. Mati sahid lebih baik dari pada mati ketika membela rezim sekuler. Ingatlah ayat ini:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ(58)
Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki.
Blog ke tiga
Peringatan:Mesin pencari diblog tidak berfungsi, pergilah ke google lalu tulislah:  mantan kiyai nu    lalu teks yang kamu cari
Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfreand ). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfreand )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan