Senin, Desember 31, 2012

Assalamu ‘alaika




اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ
Assalamu ‘alaika
Kesejahteraan untukmu


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ
Kesejahteraan untukmu
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ   يَاحَبِيْبَ الله
Kesejahteraan untukmu,  wahai kekasih Allah!

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  ياَ رَسُوْلَ الله
Kesejahteraan untukmu, wahai utusan Allah!
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  أَحْمَدْ يَاحَبِيْبِي
Kesejahteraan untukmu, Ahmad wahai kekasihku!

Keterangan: Panggilan wahai kekasih  tidak pernah dikatakan oleh para sahabat kepada Nabi   di hadapan beliau. Tapi ada sahabat yang berkisah tentang Nabi   dengan menyebut beliau  kekasihku  sebagaimana tersebut hadits:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةٍ لَا أَدَعُهُنَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى أَبَدًا أَوْصَانِي بِصَلَاةِ الضُّحَى وَبِالْوَتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
Abu Dzar berkata, “Kekasihku Rasulullah   berwasiat dengan tiga, aku tidak akan meninggalkannya, insyaallah ta’ala, selamanya. Beliau  memberi wasiat kepadaku untuk menjalankan shalat Duha, witir sebelum tidur dan tiga hari puasa tiap bulan.[1]

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  طَهَ يَا طَبِيْبِي
Kesejahteraan untukmu, Thaha wahai dokterku!
Keterangan: Tiada satupun sahabat yang memanggil Rasulullah   dengan kalimat Thaha dan tiada hadits yang membenarkannya. Imam Bukhari berkata:
سُورَةُ طه قَالَ عِكْرِمَةُ وَالضَّحَّاكُ بِالنَّبَطِيَّةِ أَيْ طَهْ يَا رَجُلُ يُقَالُ كُلُّ مَا لَمْ يَنْطِقْ بِحَرْفٍ أَوْ فِيهِ تَمْتَمَةٌ أَوْ فَأْفَأَةٌ فَهِيَ عُقْدَةٌ
Surat Thaha. Ikrimah dan Dhahak menyatakan kalimat Thaha adalah bahasa pasaran artinya wahai lelaki. Kata ini ditujukan kepada orang yang tidak bisa mengatakan huruf dengan jelas atau samar atau selalu mengeluarkan huruf fa`. Jadi seperti ikatan atau kesulitan.
Pengarang Tafsir Adhwa`ul Bayan[2] berkata :
أَظْهَرُ الْأَقْوَالِ فِيْهِ عِنْدِي ـ أَنَّهُ مِنَ الْحُرُوفِ الْمُقَطَّعَةِ فِي أَوَائِلِ السُّوَر،
Pendapat yang paling kuat menurut saya adalah Thaha  termasuk huruf yang terpotong–potong pada permulaan surat.
Tentang Thabib sebagai panggilan Rasulullah  juga, tiada para sahabat atau ulama dulu yang memanggilnya  dengan panggilan thabibi. Istilah ini hanya dari sang penyair.

Keterangan:  Menyebut Rasulullah  sebagai dokter untuk seluruh makhluk tidak pernah dilakukan oleh para sahabat atau ulama salaf dahulu. Pernyataan seperti itu dari penyair ini belaka tanpa mencari dalilnya. Jadi kalimat tersebut baru, boleh dikatakan belum tentu Rasulullah   senang kepadanya. Mungkin juga tidak menyukai panggilan itu.
عَنْ أَبِي رِمْثَةَ قَالَ انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي وَأَنَا غُلَامٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَبِي إِنِّي رَجُلٌ طَبِيبٌ فَأَرِنِي هَذِهِ السِّلْعَةَ الَّتِي بِظَهْرِكَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهَا قَالَ أَقْطَعُهَا قَالَ لَسْتَ بِطَبِيبٍ وَلَكِنَّكَ رَفِيقٌ طَبِيبُهَا الَّذِي وَضَعَهَا
Dari Abu Rimtsah berkata: Aku berangkat bersama ayahku kepada Nabi  , aku masih anak muda.
Ayahku berkata kepada Nabi , sesungguhnya aku dokter lelaki, tunjukkan barang ini yang ada di punggungmu –maksudnya stempel kenabian.
Rasulullah   bertanya:  Mau apa kamu?
Dia menjawab: Aku potong
Rasulullah   bersabda: Kamu bukan dokter, tapi teman. Dokternya adalah yang meletakkan  stempel itu.[3]
وَقَالَ التِّرْمِذِي حَدِيْثٌ حَسَنٌ غَرِيْبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيْثِ عُبَيْدِ الله بنِ إِيَاد
Imam Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan nyleneh (asing atau aneh), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur Ubadillah bin Iyad.
Karena itu pula Imam Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.



اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَامِسْكِي وَطِيْبِي
Kesejahteraan untukmu, wahai misiku dan haruimanku!
Keterangan: Apalagi wahai misikku, digunakan untuk memanggil Rasulullah e  tiada dalilnya. Jadi terkesan ngawur.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  ياَ مَاحِي الذُّنُوْبِ
Kesejahteraan untukmu, wahai penghapus dosa – dosa.
Komentarku ( Mahrus ali ): Kalimat tersebut syirik besar, sebab yang menghapus dosa hanyalah Allah SWT, Allah SWT. berfirman :
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”[4]
Rasulullah   juga pernah berdoa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran wala yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli maghfiratan min ‘indik warhamni innaka antalghafurur rahim. Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala dinik
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku dan tidak akan bisa mengampun dosa–dosa kecuali Engkau, ampunilah aku dengan pengampunan  dari-Mu, dan belas kasihanilah aku, sesungguhnya  Engkau  Maha  Pengampun lagi  Maha  belas kasih.”[5]
Jadi menurut hadits dan ayat al-Quran tersebut tidak dibenarkan Rasulullah sebagai penghapus dosa, di mana beliau  sendiri juga minta ampun kepada Allah SWT. Bahkan ada ayat yang menunjukkan bahwa Allah SWT. mengampuni dosa Rasulullah   secara keseluruhan sebagai berikut:


                                                                                            
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا(1)لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.”[6]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَاحَسَنَ الصِّفَاتِ
Kesejahteraan untukmu, wahai orang yang memiliki sifat baik!

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَاعَوْنَ اْلغَرِيْبِ
Kesejahteraan untukmu, wahai penolong orang asing.[7]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  أَحْمَدْ يَامُحَمَّدْ
Kesejahteraan untukmu, Ahmad – Muhammad
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  طَهَ يَامُمَجَّدْ
Kesejahteraan untukmu, Thaha – Muhammad.[8]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَاكَهْفَا وَمَقْصَدْ
Kesejahteraan untukmu, wahai gua dan tempat tujuan.[9]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَاجَالِي اْلكُرُوْبِ
Kesejahteraan untukmu, wahai pelenyap kesedihan!
Komentar: kalimat tersebut jelas kesyirikan sebab yang menghilangkan kesedihan bukan Muhammad , tapi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[10]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَاخَيْرَ اْلاَنَامِ
Kesejahteraan untukmu, wahai manusia terbaik
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  ياَبَدْرَ التَّمَامِ
Kesejahteraan untukmu,  wahai purnama kesempurnaan!
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  يَا نُوْرَ الظَّلاَمِ
Kesejahteraan untukmu,wahai cahaya kegelapan![11]
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  ياَ كُلَّ اْلمَرَامِ
Kesejahteraan untukmu, wahai segala harapan!
Komentarku ( Mahrus ali ): Kalimat “wahai segala harapan” pun tidak layak diberikan kepada nabi  sebagai nama panggilannya. Ini suatu pujaan yang melewati batas dan tidak rasional. Karena Rasulullah   sekadar manusia yang lemah sebagaimana  ayat :
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”[12]
Bahkan beliau sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya besok. Allah SWT. berfirman:
مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul (atau aku tidak akan membikin ajaran yang baru yang berbeda dengan ajaran para Rasul yang lampau ) dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."[13]
خَارِجَةُ بْنُ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ أُمَّ الْعَلَاءِ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ بَايَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُ اقْتُسِمَ الْمُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ فَأَنْزَلْنَاهُ فِي أَبْيَاتِنَا فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَلَمَّا تُوُفِّيَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِي أَثْوَابِهِ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ مِثْلَهُ وَقَالَ نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ عُقَيْلٍ مَا يُفْعَلُ بِهِ وَتَابَعَهُ شُعَيْبٌ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ وَمَعْمَرٌ *

Kharijah bin Zaid bin Tsabit berkata, “Sesungguhnya Ummul Ala` wanita Anshar yang berbaiat kepada Nabi  memberitahunya bahwa kaum muhajirin diundi, lalu bagian Utsman bin Madh`un jatuh kepada kami, lalu kami tempatkan di rumah–rumah kami, lalu sakit hingga meninggal dunia. Setelah dimandikan dan dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah  masuk, aku berkata: Rahmat Allah SWT. diberikan kepadamu wahai  Abus Sa`ib, aku bersaksi untukmu, sunggguh  Allah SWT. telah memuliakanmu.“
Rasulullah  bertanya, “Darimana kamu tahu, Allah SWT. memuliakannya.”
Aku berkata, “ Siapa yang dimuliakan oleh Allah?
Rasulullah bersabda, “Dia telah meninggal dunia. Demi Allah SWT, aku berharap dia mendapat kebaikan. Demi Allah SWT, aku tidak mengetahui, padahal aku Rasulullah , apa yang akan dilakukan kepadaku.“
Ummul Ala` berkata: Demi Allah SWT, aku tidak akan memuji orang setelah itu.“[14]

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكْ  ياَذاَ الْمُعْجِزَاتِ
Kesejahteraan untukmu, wahai orang yang memiliki beberapa mukjizat.






[1]  Sunan Nasai (2404).
[2] Muhammad al-Amin bin Muhammad bin al-Mukhtar al-Jikuni al-Syinqithi. Editor.
[3] Musnad Ahmad (17038). Sahih. Ia juga dicantumkan dalam kitab Aunul Ma`bud (11/175).

[4] Surat Ali Imran:135.
[5] Muttafaq ‘alaih. Shahih al-Bukhari (834).
[6] Surat al-Fath:1-2.
[7]  Para sahabat tidak pernah menyebut Rasulullah r  dengan kalimat : wahai penolong orang asing.
[8]  Tentang kalimat Thaha, lihat komentarnya dalam bab Assalamu ‘alaika.
[9]  Tiada sahabat atau ulama salaf dahulu yang menyatakan seperti itu, bahkan bisa dikatakan syirik.
[10] Surat Yunus:107.
[11] Tiada sahabat atau ulama salaf dahulu yang menyatakan perkataan seperti itu.

[12] Surat al-Nisa: 28.
[13] Surat al-Ahqaf: 9.
[14] Shahih Muslim (1243).
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan