Sabtu, Juli 09, 2011

Kesesatan LBMNU Jember ke dua puluh lima


Bid`ah hasanah menurut Imam Syafii


فَقَدْ قَالَ إِمَامُنَا الشَّافِعِيُّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ: مَا أُحْدِثَ وَخَالَفَ كِتَاباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَراً فَهُوَ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ، وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ اْلبِدْعَةُ الْمَحْمُوْدَةُ.
Sungguh\ Imam kami Syafii , semoga Allah mensucikan hatinya  :   Masalah baru yang bertentangan dengan  al quran  , hadis ,. Ijma` atau atsar , maka di katakan  bid`ah dholalah .

Kebaikan  baru  dan tidak bertentangan  dengan hal tsb , maka di katakan bid`ah terpuji .

Tim penulis LBM Jember  menyatakan : 
 


طَلَبَ بَعْضُ اْلاِخْوَةِ جَوَابَ الشَّيْخِ عَبْدَ الْقَيُّوْمِ السحيبَانِي فِي رِسَالَتِهِ اْلقَيِّمَةِ ) اللُّمَعُ فِي الرَّدِّ عَلَى مُحَسِّنِ اْلبِدَعِ )
فَهَذَا جَوَابُ الشَّيْخِ عَنْ قَوْلِ الشَّافِعِي :
ذُكِرَ كَلاَمُ الشَّافِعِي مِمَّا يَسْتَدِلُّ بِهِ مُحَسِّنُ اْلبِدَعِ فَقَالَ :

Sebagian ihwan minta jawaban Syaikh Abd Qayyum as suhaibani dalam risalahnya  yang berharga  : Alluma` firr raddi ala muhassinil bida`- Bekal untuk menjawab ahli bid`ah hasanah .
Dan ini jawaban Syaikh tsb terhadap perkataan Imam Syafi`I . Beliau berkata ::

الْجَوَابُ عَنْ هَذِهِ الشُّبْهَةِ :
أَوَّلاً : لاَيَجُوْزُ أَنْ يُعَارَضَ كَلاَمُ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِكَلاَمِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ , كَائِنًا مَنْ كَانَ, فَكَلاَمُ النَّبِيِّ حُجَّةٌ عَلَى كُلِّ اَحَدٍ , وَلَيْسَ كَلاَمُ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حُجَّةً عَلَى كَلاَمِ النَّبِيِّ .
Jawaban atas kesamaran ini  :
1.    Tidak di perkenankan mempertentangkan perkataan Rasulullah   dengann perkataan seseorang , siapapun orangnya  > perkataan Nabi   adalah hujjah  atas seseorang bukan sebaliknya yaitu perkataan orang menjadi hujjah atas perkataan Nabi 

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : لَيْسَ أَحَدٌ إِلاَّ وَ يُؤْخَذُ مِنْ رَأْيِهِ وَيُتْرَكُ , مَا خَلاَ النَّبِيَّ .
Abdullah bin Abbas ra berkata : :Pendapat seseorang boleh di ambil atau di tinggalkan  selain  Nabi 

ثَانِياً :الْمُتَأَمِّلُ فِي كَلاَمِ الشَّافِعِي > رَحِمَهُ اللهُ < لاَيَشُكُّ أَنَّهُ قَصَدَ بِاْلبِدْعَةِ الْمَحْمُوْدَةِ , اْلبِدْعَةَ فِي اللُّغَةِ , لاَفِي الشَّرْعِ , بِدَلِيْلِ : أَنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ مُخَالِفَةٌ ِللْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ, وَقَدْ قَيَّدَ الشَّافِعِيُّ اْلبِدْعَةَ الْمَحْمُوْدَةَ بِمَا لَمْ يُخَالِفِ اْلكِتَابَ وَالسُّنَّةَ , وَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ مُخَالِفَةٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ  . وَلِقَوْلِ النَّبِيِّ : ( مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ) , اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ اْلآيَاتِ وَاْلأَحَادِيْثِ .
2. Orang yang berpikir tentang perkataan Imam Syafii rahimahullah tiada ragu lagi bahwa maksud bid`ah yang terpuji adalah bid`ah lughowi  bukan bid`ah syar`I . Buktinya   , sesungguhnya setiap bid`ah syar`I adalah bid`ah yang bertentangan dengan al quran dan hadis . Sungguh Imam Syafii mensaratkan bid`ah menurut syariat  adalah yang bertentangan dengan al quran dan hadis . Setiap bid`ah syar`I adalah yang bertentangan dengannya  karena ada  firman Allah : Pada hari ini , saya sempurnakan agamamu untukmu .
Ia juga bertentangan dengan  hadis Nabi "
Barang siapa yang berbuat bid`ah dalam urusan kami ini yang tidak bersumber dari padanya  maka tertolak .
Dan masih banyak ayat dan hadis yang seperti itu .


قَالَ بْنُ رَجَبٍ : "
وَمُرَادُ الشَّافِعِي - رَحِمَهُ اللهُ - مَا ذَكَرْنَاهُ مِِنْ قَبْلُ : أَنََّ الْبِدْعَةَ الْمَذْمُوْمَةَ مَا لَيْسَ لَهَا أَصْلٌ مِنَ الشَّرِيْعَةِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ ، وَهِيَ الْبِدْعَةُ فِي `إِطْلاَقِ الشَّرْعِ ، وَأَمَّا الْبِدْعَةُ الْمَحْمُوْدَةُ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ ، يَعْنِي : مَا كَانَ لَهَا أَصْلٌ مِنَ السُّنَّةِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ ، وَإِنَّمَا هِيَ بِدْعَةٌ لُغَةً لاَ شَرْعاً ؛ لِمُوَافَقَتِهَا السُّنَّةَ إ.هـ . (جَامِعُ اْلعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ - ح 28)

Ibnu Rajab berkata :
Maksud Imam Syafii rahimahullah   apa yang kami sebutkan sebelumnya  : Sesungguhnya  bid`ah yang tercela adalah bid`ah yang tidak punya sumber dari sariat . Itulah bid`ah  syar`I . Adapun bid`ah  yang terpuji  adalah bid`ah yang masih  cocok dengan sunnah adalah bid`ah yang ada landasannya dari sariat > Dia adalah bid`ah lughowiyah  bukan syar`I  karena cocok dengan sariat . Jamiul ulum wal hikam  Juz 28 .


وَخُلاَصَةُ الْقَوْلِ : أَنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ يُقَالُ إِنَّهَا مَحْمُوْدَةٌ , فَإِمَّا أَنَّهَا لَيْسَتْ بِبِدْعَةٍ , وَلَكِنَّ ظُنَّ أَنَّهَا بِدْعَةٌ , وَإِمَّا أَنْ يُثْبَتَ كَوْنُهَا بِدْعَةً , فَهِيَ سَيِّئَةٌ قَطْعاً , لِمُخَالَفَتِهَا اْلكِتَابَ وَالسُّنََّةَ .
Kesimpulan : Setiap bid`ah yang di katakan terpuji adakalanya  bukan bid`ah , tapi di kira bidah . Adakalanya memang bid`ah , tapi sayyiah  karena  bertentangan dengan al quran dan hadis .


ثَالِثاً :أَنَّ الْمَعْرُوْفَ عَنِ الشَّافِعِي [ رَحِمَهُ اللهُ ] شِدَّةُ حِرْصِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ النَّبِيِّ , وَغَضَبُهُ الشَّدِيْدُ عَلَى مَنْ يَرُدُّ حَدِيْثَ النَّبِيِّ , وَمِمَّا يُذْكَرُ عَنْهُ فِي ذَلِكَ , أَنَّهُ سَأَلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ : رُوِيَ فِيْهَا كَذَا وَكَذَا عَنِ النَّبِيِّ , فَقَالَ السَّائِلُ : يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ تَقُوْلُ بِهِ ؟ فَارْتَعَدَ الشَّافِعِيُّ وَانْتَفَضَ , وَقَالَ : يَاهَذَا أَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي , وَأَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي اِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ حَدِيْثاً , فَلَمْ أَقُلْ بِهِ , نَعَمْ عَلَى السَّمْعِ وَالْبَصَرِ .
Populer sekali dari Syafii bahwa beliau sangat senang mengikuti Nabi   dan marah sekali terhadap orang yang menolaknya  . Diantara klisahnya tentang hal itu , bahwa beliau  di tanya  tentang  sesuatu  , lalu berkata :
Ada hadis yang di riwayatkan  dari Nabi   tentang hal itu .
Sang penanya berkata :  Wahai  Abu Abdillah  , apakah kamu juga berkata  seperti itu ?
Imam Syafii gemetar , lalu berkata  : Wahai  orang ini , bumi mana yang saya tempati dan langit mana yang menaungiku  bila aku meriwayatkan hadis dari Rasulullah   lalu aku tidak berpendapat begitu  , ya aku  harus taat pada  hadis itu .

فَكَيْفَ يُظَنُّ بِمَنْ هَذِهِ حَالُهُ أَنْ يُعَاضَ حَدِيْثُ رَسُوْلِ اللهِ ( كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ) , بَلِ اْلأَلْيَقُ بِهِ أَنْ يُحْمَلَ كَلاَمُهُ عَلَى مَحْمِلٍ لاَ مُعَارَضَةَ فِيْهِ لِكَلاَمِ الرَّسُوْلِ , وَذَلِكَ بِأَنَّهُ قَصَدَ اْلبِدْعَةَ فِي الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ .
وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ :
اِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوا بِهَا , وَدَعُوا ماَقُلْتُه
Bagaimanakah bisa di kira orang yang keadaannya sedemikian ini lalu perkataan Rasulullah   di ganti – yaitu hadis seluruh bid`ah sesat
Bahkan paling layak adalah perkataan Syafii itu di arahkan kepada  makna yang cocok dengan  sunnah . Caranya  bidah dalam perkataan syafii itu maksudnya adalah bidah lughowi .
Sungguh syafii telah berkata :
Bila kamu menjumpai dalam kitab ku ini sesuatu yang tidak cocok dengan hadis , maka pegangilah  dan tinggalkan perkataanku .

وَقَالَ :  كُلُّ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي , وَاِنْ لَمْ تَسْمَعُوْهُ مِنِّي
Imam Syafii berkata ; Setiap hadis nabi adalah perkataanku ( pendapatku juga begitu ) sekalipun kamu tidak mendengarnya dariku .

وَقَالَ : كُلُّ مَاقُلْتُ فَكَانَ عَنِ الرَّسُوْلِ خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ , فَحَدِيْثُ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَوْلَى وَ لاَ تُقَلِّدُوْنِي
Imam Syafii berkata : Setiap perkataanku yang bertentangan dengan hadis Rasulullah   yang sahih , maka hadis Rasulullah   lebih berhak untuk di buat landasan  dan jangan bertaklid kepadaku .

وَقَالَ : ( كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ , فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي
    (اللُّمَعُ فِي الرَّدِّ عَلَى مُحَسِّنِ اْلبِدَعِ )
Imam Syafii berkata : Setiap masalah yang berlandaskan hadisv sahih menurut ahli hadis dan bertentangan dengan apa yang ku katakan , maka aku  mencabut pendapatku waktu aku hidup atau mati .  [2][3]

Komentarku ( Mahrus ali ):  Apa yang di katakan oleh syaikh Abd Qayyum itu adalah kebenaran dan memang begitulah seharusnya seseorang tidak boleh mendahulukan pendapat ulama atau imam kapanpun atau di manapun . Dia harus mengedepankan dalil yang  sahih .
Imam Syafii membuat devinisi tentang bidah hasanah dan bidah yang jelek  sbb :
مَا أُحْدِثَ وَخَالَفَ كِتَاباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَراً فَهُوَ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ، وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ اْلبِدْعَةُ الْمَحْمُوْدَةُ.
Sungguh\ Imam kami Syafii , semoga Allah mensucikan hatinya  :   Masalah baru yang bertentangan dengan  al quran  , hadis ,. Ijma` atau atsar , maka di katakan  bid`ah dholalah .
Kebaikan  baru  dan tidak bertentangan  dengan hal tsb , maka di katakan bid`ah terpuji .
 Sebetulnya perkataan tsb kurang tepat karena  atsar sahabat  itu belum tentu bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya . Juga mungkin keliru . Dan terkadang  atsar sahabat itu bertentangan dengan atsar sahabat yang lain , lalu mana yang harus di buang  dan mana yang harus di pegangi .

Kalau menurut devinisi Imam Stafii itu bila ada  atsar sahabat yang benar lalu bid`ahnya cocok dengannya  sudah tentu  di katakan bid`ah terpuji . Bagaimana  bila atsarnya  keliru , lalu bid`ahnya  juga cocok dengannya  , apakah masih tetap di katakan bid`ah yang terpuji . Sudah tentu harus di katakan  bid`ah yang  tercela . Kekeliruan dari kalangan sahabat mungkin terjadi sebagaimana kebenaran dari generasi belakangan itu juga  mungkin .


[1] Membongkar …………….. 71
[2] Alluma` firradi ala muhassini bida`no 36 . http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-96200.html



Artikel Terkait

3 komentar:

  1. wah hebat ni mantan kiyai, kayak sudah mendapat legalitas dari Tuhan untuk memberikan stempel sesat pada yang lain, padahal jelas bahwa hanya Allah swt yang Maha tahu tentang siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk.
    Kayak sudah menjadi wakil Tuhan saja,

    BalasHapus
  2. Untuk BUKHORI EL-NA`IMI
    Ber arti kamu tidak mengerti syirik , tauhid, bid`ah dan sunnah , sesat dan kebenaran. Ini tanda anda hidup tidak berpegangan kepada al Quran, Dan bahaya bagimu kelak, saya ini kasihan kepadamu

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbah makhrus ini kayak mendapat mandat dari tuhan menjadi penafsir al quran yang paling benar, ayat-ayat yang bersinggungan dg orang kafir, dijadikan amunisi untuk menembaki teman sendiri dg enteng memberikan prediket ahli bid'ah, syirik, dlalalah dsb kita saling berdo'a mbah semoga umat2muhammad semuanya husnul khatimah n masuk surga semuanya amiin

      Hapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan